//
you're reading...
Uncategorized

Akar Sejarah Kelahiran Ilmu Nahu (1)

Oleh Dr. Yasmadi, M.

(Dosen Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang)

Pendahuluan

Kajian ilmu nahu selama ini lebih menitikberatkan pada persoalan kaidah-kaidah atau ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk jabatan satu kata dalam kalimat. Dapat juga dikatakan bahwa pelajaran nahu lebih fokus untuk mengetahui bagaimana bentuk akhir sebuah kata, i`râb ataukah mabni. Misalnya, menentukan apakah kata itu termasuk kategori marfû`ât, mansûbât, ataukah majrûrât untuk kata-kata yang berbentuk ism, atau kata tersebut masuk kategori marfû`at, mansûbat, ataukah majzûmat untuk kata-kata yang berbentuk fi`il. Maka pelajaran nahu selama ini lebih kepada membicarakan harkat akhir sebuah kata dan kemudian menjelaskan sebab-sebab dan ilalnya. Paling tidak materi-materi seperti inilah yang dijumpai dalam pembelajaran nahu dari tingkat ibtidai, bahkan sampai perguruan tinggi di Indonesia sampai saat sekarang.

Beberapa dekade belakangan ini, orientasi kajian ilmu nahu mulai terjadi pergeseran di kalangan akademisi, terutama oleh mereka pemerhati ilmu linguistik Arab. Yang semula kajian ilmu nahu Arab lebih bersifat normatif dan aplikatif sekarang muncul kecendrungan yang kuat untuk membawa kajian dan pemikiran ilmu nahu dalam tinjauan filsafat dan sejarah. Memahami sejarah pemikiran ilmu nahu penting untuk mengetahui mengapa terjadi perbedaan-perbedaan dalam penetapan kaidah-kaidah nahu yang berimplikasi pada sikap penerimaan dan keterbukaan dalam menerima perbedaan tersebut. Yang juga jauh lebih penting adalah dengan memahami sejarah pemikiran ilmu nahu akan dirasakan betapa pentingnya perumusan dan perwujudan ilmu nahu ketika itu dalam kerangka menjaga keotentikan atau kemurnian al-Qur’an, termasuk juga memelihara geniusitas bahasa Arab dalam makna yang lebih umum. Dapat dikatakan bahwa sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu nahu berhubungan secara signifikan dengan fenomena yang terjadi dalam sejarah perkembangan dan peradaban Islam.

Umat Islam Masa Khulafa Rasyidin

Selintas dalam perspektif sejarah Islam terlihat bahwa periode Khulafah Rasyidin terkenal dengan masa integrasi, ekspansi dan kemajuan dalam tahap awal. Dalam hal ekspansi misalnya, sebelum nabi Muhammad wafat tahun 632 M., seluruh semenanjung Arabia telah berada di bawah kekuasaan Islam. Pada masa-masa berikutnya daerah-daerah di luar Arabia jatuh ke bawah kekuasaan Islam pada periode Khulafa Rasyidin, terutama pada masa Abu Bakar (w. 13 H), Umar bin al-Khattab (w. 44 H), dan Usman (w. 36 H). Negara Islam yang masih “bayi” ketika itu disebut oleh ahli sejarah sebagai suatu kekhaisaran besar dan kekuatan baru yang terbesar. Mahmudunnasir melihat hal itu sebagai kontribusi terbesar yang dilakukan oleh Umar Ibn al-Khattab dalam sepuluh tahun kekhalifahannya dengan berhasil menaklukkan Irak, Iran, Siria, Palestina, dan Mesir.

Keberhasilan umat Islam menduduki wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan nonmuslim, terutama pada abad pertama hijrah periode Umar, telah membawa dampak yang cukup signifikan bagi peradaban Islam. Penaklukan tersebut telah melahirkan gerakan perubahan yang cukup luas mengenai pola perdagangan internasional, perniagaan warga perkotaan, pertanian, kemiliteran, dan pengaturan sistem pemerintahan. Di sisi lain, dengan semakin bertambahnya komunitas Islam yang berasal dari bangsa Persia dan bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Romawi sebelumnya maka juga menimbulkan persoalan baru bagi dunia Arab Islam yaitu terjadinya distorsi dalam penggunan bahasa fusha oleh mereka sebagai bangsa “pendatang” terhadap mereka yang terbiasa dengan menggunakan bahasa Arab secara fasih.

Kondisi ini membawa keprihatinan yang begitu tinggi di kalangan ulama melihat semakin banyaknya jumlah pemeluk Islam dan orang yang berada di bawah kekuasaan Islam dengan semakin intensnya mereka menggunakan simbol-simbol bahasa keagamaan. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika banyak dari mereka yang melafalkan al-Qur’an secara tidak benar. Tetapi, fenomena tersebut telah menjadi sebuah realitas faktual yang harus dihadapi umat Islam ketika itu dan dari satu sisi dapat dikatakan sebagai implikasi negatif dari ekspansi yang dilakukan umat Islam.

Berangkat dari realitas tersebut lahirlah sebuah kesadaran di kalangan para sahabat dan ulama untuk membuat ketentuan-ketentuan yang baku tentang tata bahasa Arab, dalam hal ini nahu, guna menjaga orisinilitas dan keotentikan Qur’an. Di sisi lain, mereka yang bukan berasal dari bangsa Arab atau orang-orang yang telah menjadi “Arab” juga merasakan kebutuhan mendesak untuk mewujudkan nahu tersebut. Mereka turut serta mempelopori dan memprakarsai usaha ini, karena itu pulalah ilmu nahu tidak lahir di jazirah Arab, tetapi ilmu ini justru muncul pertama kali di Irak, Basrah. Adanya kesadaran relatif tinggi oleh kedua pihak meskipun dengan alasan dan kepentingan yang berbeda maka nahu kemudian dirumuskan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelahiran Nahu

Berbeda dengan cikal bakal sejarah penyusunan dan pembakuan hukum Islam misalnya, yang berawal dari terjadinya berbagai perpecahan di kalangan umat Islam sendiri yang juga berimplikasi pada pemahaman terhadap wacana hukum Islam, penyusunan kaidah-kaidah nahu justru didorong oleh karena telah semakin banyaknya penganut Islam dari orang-orang berkebangsaan asing (`ajam) atau non-Arab. Maka dapat dikatakan bahwa penyusunan kaidah-kaidah nahu berawal dari keprihatinan yang cukup mendalam di kalangan ulama akan hilangnya pertalian yang kuat antara bahasa Arab dengan bahasa al-Qur’an, serta hilangnya orisinilitas dan keotentikan Qur’an sebagai kitab utama dan pedoman umat Islam.

Pada mulanya yang mendorong ulama dalam perumusan dan penyusunan kaidah-kaidah nahu bukan karena terjadinya perpecahan ataupun perbedaan mazhab di kalangan ulama-ulama nahu, tetapi justru karena semakin banyaknya orang asing yang menggunakan bahasa Arab dengan latar belakang bahasa yang amat beragam sebelumnya. Kondisi ini pada gilirannya mempersubur terjadinya salah ucap atau lahn dalam berbahasa. Jika dirumuskan secara umum ada dua faktor utama yang mendorong ulama melakukan hal tersebut, yaitu teologis, dan non-teologis.

Pertama, faktor teologis, ad-dîniy

Faktor agama, yaitu ketika itu adanya keinginan yang kuat di kalangan ulama melafalkan ayat-ayat al-Qur’an secara fasih dan benar. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya kasus lahn (salah ucap) terjadi dalam bacaan-bacaan ritual keagamaan. Lahn sebenarnya telah berlangsung cukup lama, bahkan telah terjadi sejak masa Rasulullah saw, periode Umar ibn Al-Khattab, dan seterusnya, meskipun dalam jumlah yang masih relatif sedikit. Seiring dengan perkembangan dan penyebaran agama Islam yang berakibat pada banyaknya daerah taklukan Islam yang memeluk agama Islam dimana mereka berasal dari daerah yang baragam dan bahasa yang juga beragam, maka lahn pun kian subur dan semakin banyak terjadi. Ketika itu banyak anak keturunan Arab yang terlahir dari ibu-ibu yang berasal dari warga “asing” atau non Arab yang secara otomatis mewariskan gaya bahasa, gaya bicara, dan dialek asing kepada mereka. Latar belakang inilah yang mendorong ulama untuk (الصواب من الخطأ في الكلام) membetulkan kesalahan-kesalahan dalam ucapan karena jika tidak diantisipasi lahn akan terus terjadi dan berkembang sehingga dikhawatirkan berimbas pada pengucapan ayat-ayat al-Qur’an al-karim.

About these ads

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: