//
you're reading...
Cinta

Lelaki Itu Ingin Menangis

cry.jpg

Sungguh, ia ingin menangis setiap kali ia bertemu dengan perempuan itu. Melihatnya pun ia ingin menangis. Benar-benar ia ingin menangis. Tetapi ia ingat, ia lelaki. Lelaki tak pantas menangis. Memalukan, apalagi di depan perempuan. Walaupun ia ingat apa kata temannya, “apa salahnya seorang lelaki menangis. Menangislah jika kamu ingin menangis, mungkin dengan menangis sedihnya akan sedikit berkurang.”

Tetapi ia lelaki. “Lelaki tak boleh menangis,” kata mendiang kakeknya. “Menangis hanya untuk perempuan, lelaki harus mengeringkan air matanya.” Dan itu membuatnya tak menangis betapun kuatnya ia ingin menangis. Ia lupa kenapa ia ingin menangis jika melihat perempuan itu. Ia tak ingat kapan ia bertemu pertama kali dengan perempuan itu. Ia dan perempuan itu memang sering bertemu. Baginya perempuan itu tidak cantik, banyak yang lebih cantik darinya. Perempuan itu sederhana dan biasa, mungkin karena itu ia menarik. Hanya ketika ia berada di dekatnya ia merasa berenergi. Perempuan itu seakan memancarkan energi yang besar. Ketika pertama kali bertemu, ia sedang sedih, dan ketika berpisah, entah mengapa ia bahagia. Kata temannya, wajahnya jadi bercahaya, cerah. Dengan wanita itu, waktu tak pernah berjalan, tak terasa. Ia bisa berbicara apa saja dengannya. Dari Alfiah Ibnu Malik sampai Naguib Mahfouz, dari yang umum sampai yang privacy, dari yang guyonan sampai yang ilmiah, dari nol sampai angka sembilan. Tentang apa saja.

Ia tahu wanita itu seperti apa, dan karakternya bagaimana. Ia tak pernah menanyakannya dan perempuan itu sering menceritakannya. Ia hanya tahu apa yang pernah dikatakan perempuan itu dan ia mencoba memahaminya. Cukup baginya bertemu dengannya adalah sebuah kebahagiaan hidup. Bahkah kebahagiaan tiada tara dalam sejarah hidupnya. Meski hanya dua kali seminggu di satu tempat saja ia bertemu dengan perempuan itu, itu sudah cukup. Ia puas.

Perempuan itu suka memainkan cincin di jari manisnya. Tetapi ia tak pernah bercerita tentang cincin itu. Tetapi setiap berbicara dengannya perempuan itu suka memutar-mutar jari manis dan cincinnya. Ia tak pernah berani menanyakannya. Ia tak tahu mengapa ia takut memastikan. Dan sekarang setelah merasa hampir kehilangan pun ia ingin menangis seperti ia melihat atau bertemu dengannya. Mungkin karena ia tahu perempuan itu sudah “ada yang punya”. Apalagi yang bisa membuat seorang lelaki ingin menangis jika perempuan yang dicintainya sudah ada pendampingnya? Dan sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia lelaki. Dan setiap saat ia ingin menangis.[]

sumber:noer.blogdetik.com

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: