//
you're reading...
Uncategorized

Learn to be a spiritual doctor

Kata SPIRITUAL DOCTOR ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel mengenai seorang ibu rumah tangga yang disebut penulis sebagai spiritual mother. Seorang ibu sekaligus ustadzah –yang kebetulan juga sangat saya kenal- dalam menjalankan profesinya sebagai ibu rumah tangga ini menerapkan tiga prinsip:

Cinta, ibadah, dan peningkatan kompetensi.

Inilah yang seharusnya dimiliki oleh semua profesi, apapun itu.

Cinta, artinya lakukan segala yang menjadi tanggung jawab dengan landasan cinta. Tentu saja cinta yang utama cinta kepada Alllah, barulah diikuti cinta kepada yang lain (orangtua, keluarga, kerabat bahkan pasien). Ya, mulai sekarang lakukan pekerjaanmu, seletih apapun itu, dengan slogan “atas nama cinta“. Bagi para ko-ass mungkin bisa diterapkan: “bu, atas nama cinta saya mau mengecek tekanan darah ibu ya” hehe… pasti pasiennya langsung bengong 100% deh.

Ibadah, semua pekerjaan “atas nama cinta” itu dilaksanakan tidak lain tidak bukan adalah sebagai manifestasi peribadatan kepada Allah. Maka semua pekerjaan, seletih apapun, akan dapat bernilai lebih. Percuma dong kamu udah capek-capek melaksanakan segala aktifitas dan kewajibanmu tapi bernilai NOL besar dihadapan Allah karena landasan niatmu bukan untuk ibadah kepadaNya.

Kompetensi, kita harus bisa menarik pelajaran baru atau hikmah-hikmah dari setiap aktivitas yang kita lakukan tadi. Baik dari sisi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap-sikap baru hasil adaptasi. Kesemua itu akan menghasilkan suatu kompetensi. Dengan kompetensi yang terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu, maka kecintaan akan aktiftas itu pun dapat bertambah. Ini bagai sebuah lingkaran indah yang tak pernah habis… cinta, ibadah, kompetensi, cinta..begitu seterusnya.

Dengan tiga prinsip ini Insya Allah kita dapat selalu bersemangat, bergembira dan mensyukuri segala yang kita lakukan. Manusiawi kok, jika kamu mengalami titik jenuh. Namun, pandangan hidup dengan prinsip-prinsip tadi lah yang dapat membantu kita mengembalikan kondisi hati dan perasaan kepada keadaan normal. Karena pandangan hiduplah yang dapat mengendalikan hati dan perasaan seseorang. Jadikanlah dirimu sendiri sebagai pengendali hati dan perasaanmu! Bukan sebaliknya!

Menjadi seorang spiritual doctor memang tidak mudah. Diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk melaksanakannya. Awalnya seseorang harus lebih mengenal dan menanamkan cinta pada Allah. Memahami sifatNya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Memahamai maksud Allah sebagai Illah yang mendominasi hati. Meresapi dengan penuh akan makna ibadah dan kecintaan pada Allah.

Memang sulit, perjuangan (tadhiyyah) yang panjang sangat diperlukan sebelum seseorang dapat mencapai taraf itu. Ketika sebuah penghayatan spiritual dapat merasuk dalam setiap aktivitas yang kita lakukan maka kita akan dapat bertahan ketika menghadapi sebuah hasil yang mengecewakan dari sebuah kegiatan. Tidak hanya itu, sebuah spiritual spirit dapat membuat seseorang mau bersungguh-sungguh dengan cara yang terbaik. Proses pelaksanaan aktivitas pun dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan kegembiraan karena semuanya berlandaskan cinta pada Allah. Dan kesemua itulah yang membuat pekerjaan kita bernilai di sisi Allah.

Sebab aku cinta

Cinta adalah kecenderungan hati, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang condong kepada apa yang dicintainya dengan semangat mengasihi dan menyayangi. Jadi cinta yang sebenarnya datang dari hati (bukan dari mata, telinga, hidung, apalagi tenggorokan..hehe).

Tingkatan cinta
Abdullah Nashih Ulwan membagi cinta dalam 3 tingkatan, antara lain:
1. Al Mahabat Al Ula
2. Al Mahabat Al Wustha
3. Al Mahabat Al Adna
Pembagian ini berdasarkan firman Allah SWT:

”Katakanlah: ”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu cemaskan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, semua itu lebih kamu cintai daripada Allah, rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya.” Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah:24)
Al Mahabat Al Ula

Adalah tingkatan cinta tertinggi, utama. Satu-satunya sebab cinta yang akan melahirkan cinta abadi! Yaitu cinta kepada Allah dan Rasulnya, juga semua yang berkaitan dengan kedua hal di atas. Allah Maha Abadi, tiada yang dapat menandingi-Nya. Jika cinta ini sudah terpatri di hati, maka hati pun pasti akan tentram, masalah duniawi yang silih berganti tak akan membuat kita risau. Lho, kok bisa? Tentunya Allah sebagai Sang Kekasih tak akan membiarkan orang yang tulus mencintaiNya gelisah dan merana dalam hidup. Lihat saja betapa tentram dan damainya hidup Rasulullah, para shahabat, dan para alim ulama. Mereka mencintai Allah, begitu pula sebaliknya. Ketika dilanda musibah pun mereka tetap dalam kesabaran karena yakin bahwa Allah memberi cobaan semata-mata untuk menguji kesungguhan cinta mereka padaNya. Mereka percaya bahwa semua yang diberikan oleh Yang Tercinta adalah yang terbaik untuk mereka. Subhanallah…

“sesunguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang ia cintai dan orang yang tidak Ia cintai. Tapi Allah tidak memberikan nikmat agama kecuali pada orang yang Ia cintai. Barangsiapa telah diberikan agama oleh Allah, maka sesungguhnya Allah telah mencintainya” (HR.Ahmad)
Al Mahabat Al Wustha adalah kecintaan terhadap keluarga, harta, tahta, wanita, dan segala yang bersifat duniawi. Cinta ini berada di bawah cinta yang utama, sebab dan pelaksanaannya juga didasarkan pada cinta yang pertama. Jika cinta ini mengungguli cinta yang utama, maka cinta ini akan jatuh menjadi Al Mahabat Al Adna yaitu cinta yang paling rendah, yang akan mendatangkan kehinaan.

Lalu, sudahkah kita termasuk orang-orang yang menjadikan Dia sebagai yang paling dicintai dalam hidup ini? Bergetarkah hati ini ketika namaNya disebut,? Rindukah hati ini pada Dia saat ayat-ayatNya (surat cintaNya untuk kita semua) dilantunkan? Tanyakanlah pada hati kita..

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal:2)

And then, What muslim doctors have to do?

Setelah mencoba untuk meresapi dalam-dalam makna dari spiritual doctor, maka selanjutnya adalah bagaimana kita dapat menjadi dokter berkompetensi seperti yang diutarakan diatas. Dokter harus mempunyai  kompetensi atau itqan. Sebelumnya kita telah membahas, dalam konsep ikhtiar, seorang muslim harus melakukan segala sesuatu dengan  Kesungguhan (jiddiyah) dan pengorbanan (tadhiyyah).

Dalam bukunya: DOCTORS, MARKET YOURSELVES dr. Yusuf Alam mengemukakan bahwa untuk menjadi dokter yang bernilai jual tinggi, maka ia harus menjadi dokter yang berjiwa kaya. Komitmen awal seorang dokter muslim kembali kepada hakikat fitriyahnya. Semua aktifitas dunia, termasuk profesi dokter adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Sehingga nilai-nilai fitriyah tadi haruslah dimiliki oleh seorang dokter. Akhlakul karimah adalah kepribadian yang terpuji dalam diri seorang muslim. Dan hal inilah yang akan membuat seorang dokter dicintai oleh orang banyak.

Oke, sebagai manusia yang mempunyai kebutuhan, pasti tetap membutuhkan hasil dari usahanya sebagai seorang dokter. Namun yang membedakan seorang dokter muslim berakhlakul karimah dengan yang tidak adalah tujuan utama ketika menjalankan profesinya. Allah haruslah menjadi tujuan utama, dan ketika dokter mendapatkan hasil material dari apa yang diusahakannya itu hanyalah “bonus” berupa rezeki yang Allah berikan. Toh, bila pasien merasa puas akan pelayanan yang diberikan dokter, pasien tak akan ragu memberikan imbalan yang sesuai kan?

And.. be a professional!

Kita telah membahas mengenai kerja yang profesional, dimana Rasulullah SAW menekankan pentingnya itqanul amal atau kerja yang profesional. Dalam sebuah hadist dikatakan:

“Sesunguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja dengan itqan (HR.Bukhari)

Umat muslim harus punya izzah atau kehormatan yang tinggi, karena Allah telah menyebutkan umat ini sebagai umat yang rebaik. Namun, sepertinya hal ini tidak disadari atau tidak diketahui sama sekali oleh umat yang disebut sebagai khairu ummah ini. Sayang banget ya, seperti diberikan penghargaan oleh Allah, eh malah minder dan tidak mau menerima penghargaan besar ini. Apakah rasa inferioritas umat ini yang terlalu mengental? Ataukah kita terlalu terpukai oleh “kehebatan” bangsa lain yang (dianggap) lebih superior?

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali-Imran:110)

Salah satu yang menjadi tolak ukur sejauh mana umat muslim menyadari bahwa dirinya adalah umat yang terbaik adalah ia dapat menunjukkan pada dunia segala potensi yang ada pada dirinya dengan buah berupa profesionalitas. Tunjukkan bahwa engkau bekerja dengan profesional, maka Allah dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu!

“Bekerjalah! sesungguhnya Allah dan orang-orang berimanlah yang akan melihat pekerjaan kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan hal yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan!”

(QS. At-Taubah:105)

sumber:dokterqyu.multiply.com/journal/item/241

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: