//
you're reading...
Uncategorized

TIPS EN TRIK BELAJARMU

sudah berusaha belajar, tapii hasilnya kok selalu tidak memuaskan?

Jangan salah , bahkan dalam belajarpun Islam telah mengatur ‘tips’ dan  etikanya lho… semua aturan ini bukan untuk memberatkan ummat Islam, namun tidak lain untuk dirii kita sendiri, agar selalu berada dalam kebenaran:

Dan Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi takut (QS. Thaha:2)

Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah:186)

Menyampaikan ilmu kita miliki

Mungkin ketika ada teman yang bertanya tentang suatu ilmu (ilmu apapun termasuk pelajaran kuliah) terkadang kita malas untuk menjawabnya. Dalam hati kita ngedumel: siapa suruh nggak dateng kuliah kemarin….. padahal Islam mengajarkan untuk menyampaikan ilmu yang didapatkan kepada orang yang tidak mendengar langsung. Siapa tahu ternyata ketika itu teman kita sedang ada uzur yang menyebabkannya tidak bisa datang kuliah. Lagipula dengan menyanpaikan ilmu yang kita ketahui kepada orang lain tidak akan mengurangi ilmu yang kita miliki kan? Bahkan dengan menyampaikan suatu ilmu, maka  ilmu yang kamu dapatkan akan bertambah. Penguasaanmu terhadap ilmu tersebut juga akan lebih mendalam. Coba deh rasakan, sedikit apapun ilmu yang kamu miliki sampaikan kepada teman yang belum mengetahuinya. Belajar tidak hanya dari proses membaca dan mendengar, namun juga dari proses berbicara. Semakin sering kamu mengulang sesuatu dalam perkataan, maka daya ingatmu akan pelajaran tersebut juga akan lebih bagus.

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (QS. Al Ahqaaf: 29)

So, jangan pelit bagi-bagi ilmu. Dijamin nggak bakal rugi kok. Dan jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disampaikan di ayat di bawah ini:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati (QS. QS.Al-Baqarah:159)

Etika dan cara mengajarkan ilmu

Sebuah kisah tentang nabi Musa dan nabi khidhr telah memberikan begitu banyak gambaran tentang proses mendapatkan ilmu, etika, dan cara penyampaian ilmu. Seorang dosen juga mencontohkan kisah ini layaknya masa ‘per co-ass an’ nabi Musa a.s kepada nabi Khidr a.s.

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur adaku.” Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS.Al-Kahfi 66-82)

Dari kisah diatas, hal-hal yang kita petik adalah:

  1. Memperhatikan kondisi pendengar

Ketika mengajarkan sesuatu kepada orang lain, hendaknya kita memperhatikan bagaimana kondisi orang yang kita ajarkan. Seperti pada kisah diatas, ketika nabi Musa as meminta nabi Khidir untuk mengizinkannya ikut dalam perjalanan, nabi khidhr berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” dan Nabi Khidhr juga memaklumi Musa ketika ia alpa. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

  1. Kelapangan dada orang alim

Nabi Khidhr as mengetahui bahwa Musa as tidak akan dapat berasabar akan tindakan-tindakan yang akan ia lakukan. Namun nabi khidhr tetap memperbolehkan Musa untuk ikut bersamanya. “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”

  1. Etika seorang murid :
    • Menghormati guru

Musa as tetap menghormati Khidhr as setelah beberapa hal yang dilakukannya tidak sesuai dengan hati Musa. Musa pun bertanya kepada Khidhr dengan perkataan yang sopan. “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?”

    • Memperhatikan keterangan orang alim

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

    • Sabar dalam mendapatkan ilmu

“Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.”

Sabar dalam belajar itu kudu kamu jalanin. Ya sabar dalam mempelajari pelajaran yang njelimet, sabar dalam melawan kantukmu, juga sabar dalam hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kamu harpkan (misalnya nilai kamu jelek, kamu harus bias sabar dan terus berusaha untuk memperbaiki nilai kamu)

  1. Menegur guru bila terbukti salah

“Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

Etika dalam majelis ilmu

  1. Meluaskan ruang belajar

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu (QS.Al-Mujadilah: 11)

  1. Etika berbisik-bisik:

Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul (Al-Mujadilah:

Mengajar dengan cara bertanya:

Metode belajar dengan bertanya yang termasuk dalam QUANTUM TEACHING juga telah Allah contohkan dalam ayat-Nya:

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (QS.Al-An’am:46)

Semua ilmu kembali kepada Allah

Kita harus meyakini bahwa segala ilmu yang ada di dunia ini kembali kepada Allah SWT. Karena Ia lah yang Maha Mengetahui, Ia lah Yang Menciptakan dunia beserta isinya. Bahkan ilmu yang lita miliki tidak mencapai 1% dari seluruh ilmu yang ada di dunia ini. Dalam ilmu kedokteran pun masih sangat banyak etiolgi (penyebab) penyakit dan proses penyakit yang masih dalam tanda tanya besar (unknown etiology and unknown pathogensis)

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS.Al-Baqarah:32)

Pengamalan dan kewajiban orang yang berilmu:

Setelah kita memiliki suatu ilmu, maka ilmu tersebut haruslah diamalkan. Dan orang pertama yang harus mengamalkannya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain:

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? . Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-shaf 2-3)

Mengamalkan dan menyampaikan ilmu yang kita miliki akan dihitung sebagai ‘menyeru’ kepada orang lain. Selama hal tersebut adalah hal yang baik, yang menuju kebaikan, kebenaran dan keridhaan-Nya. Dan bukan hal yan gbertentangan dengan perintah-Nya.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat:33)

Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (QS. Al-a’raf:159)

Hal yang harus kita hindari adalah perasaan ujub (tinggi hati) dan riya’. Kedua hal ini akan membawa manusia menjadi sombong. Tidak sedikit manusia yang merasa dirinya hebat karena ilmu yang dimiliki. Semakin berilmu seseorang seharusnya semakin merunduklah ia, semakin tunduklah ia kepada Allah SWT. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seharusnya seseorang semakin menyadari bahwa ilmu yang ia miliki masih sangat sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu Sang Khaliq Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali-Imran:188)

sumber:

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: