//
you're reading...
Uncategorized

Kunci Bahagia Dunia & Akhirat

Pentingnya membuat perencanaan terhadap apa yang ingin kita capai juga diteladankan dan diamanatkan oleh Allah Swt. Misalnya dalam penciptaan Adam a.s. Allah Swt menjelaskan rencana-Nya untuk menciptakan prototype manusia yang akan dijadikan khalifah di muka Bumi. Sebagaimana ghalibnya sebuah rencana, pasti ada yang pro maupun kontra ketika rencana tersebut diutarakan kepada pihak lain. Demikian juga dengan rencana Allah Swt, mendapat komentar dari jamaah malaikat dengan mengatakan, “Apakah Engkau akan menciptakan di muka Bumi seseorang yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?” (QS. Al-Baqarah [2]:30). Akan tetapi, rencana Allah jua yang berlaku dan manusia pertama itupun (Adam a.s.) dan keturunannya menjadi (yakun) di muka Bumi.

Perintah untuk membuat perencanaan ini dapat kita temukan secara tersirat dalam beberapa firman Allah Swt lainnya. Misalnya dalam QS. Al-Hasyar [59]:18:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah! Sungguh, Allah Maha Memberi khabar terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan dengan seksama (nazhar atau nalar: Ind) apa yang kita perbuat untuk hari esok. Dengan kata lain kita diperintahkan untuk mempersiapkan dengan baik keadaan kita di hari esok. Menurut saya, “hari esok” (Arab: ghadd) dalam ayat ini bermakna dua hal yaitu masa depan di dunia dan masa depan di akhirat. Kesimpulan ini muncul apabila ayat ini dikaitkan dengan ayat-ayat lain yang menyuruh kita untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana akan dibahas di bawah ini. Dengan demikian, kita harus mampu mensinergikan kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui perencanaan yang baik dan pelaksanaan dari rencana itu.

Apa yang kita alami hari ini adalah akibat dari perbuatan kita di masa lalu. Keadaan 5 atau 10 tahun yang akan datang sangat ditentukan apa yang kita lakukan sekarang. Demikian juga kondisi kita di akhirat tergantung pada amal kita di dunia. Nah, jelas ada keterkaitan antara berbagai periode kehidupan yang kita lalui dari masa lalu, sekarang, masa depan, dan nanti di akhirat.

Coba ingat kembali, pernahkah Anda merencanakan bagaimana keadaan Anda sekarang pada lima tahun yang lalu? Apakah Anda cukup puas dengan keadaan sekarang atau belum? Jika belum, mungkin ada baiknya mulai sekarang Anda serius merencanakan hidup Anda. Merencanakan hidup berarti Anda mengambil alih kendali (take control) atas diri Anda sendiri.

Jika ingin hidup bahagia di akhirat, maka rencanakan dari sekarang. Kemudian lakukan berbagai hal yang mengantarkan Anda kepada kebahagiaan itu. Pilihannya hanya ada dua, bahagia atau sengsara. Dan, tidak ada yang paling menginginkan kesengsaraan kita di akhirat nanti selain iblis atau setan. Kalau kita tidak mengendalikan diri kita, melaksanakan rencana-rencana untuk kebahagiaan di akhirat, sangat dikhawatirkan kita malah mengikuti rencana-rencana atau langkah-langkah setan yang kita permaklumkan sebagai musuh yang nyata dan abadi.

Pada bagian lain Allah Swt menganjurkan untuk mempersiapkan nashib (bagian) di dunia.

“Dan carilah (pahala) negeri Akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu (nashibmu) di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash[28]:77).

Dalam ayat ini Allah Swt menyuruh hamba-hamba-Nya untuk berbuat banyak hal terhadap nikmat dan anugerah yang diberikan Allah untuk kebahagiaan di kampung akhirat kelak. Namun, jangan sampai melupakan kebutuhan duniawi.

Menurut pemahaman saya, dalam ayat ini Allah menyuruh kita untuk membuat perencanaan yang matang tentang kebahagiaan di akhirat dan dunia. Kebahagiaan tersebut dapat dicapai dengan memanfaatkan rezeki atau anugerah Allah SWT. Artinya, rezeki yang diberikan Allah harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan di akhirat kelak dengan tidak melupakan nashib (bagian atau jatah) di dunia. Dengan kata lain, rezeki yang diberikan Allah SWT harus dikelola dengan baik agar kebahagiaan di akhirat dan dunia dapat dicapai.

Mengenai hal ini, terdapat dua kutub ekstrim dalam pengelolaan rezeki tersebut. Di satu kutub adalah penggunaan rezeki yang semata-mata untuk kepentingan duniawi dengan melupakan kepentingan ukhrawi. Di kutub lain adalah menggunakan semua rezeki untuk kepentingan ukhrawi dengan menafikan untuk kepentingan duniawi. Nah, sekarang kita bisa melihat posisi kita berada di mana di antara kedua kutub ekstrim tersebut.

Graphic1

Gambar 1 Posisi Kepentingan Duniawi dan Ukhrawi

Akhirat adalah tempat dan tujuan akhir periode kehidupan kita. Sebagai sesuatu yang bersifat akhir, tentunya nasib kita di akhirat tidak bisa di tentukan di akhirat pula. Ibarat dalam suatu lomba lari, kita tidak bisa baru berusaha mendapatkan juara 1 ketika telah melewati garis finish. Apa yang akan terjadi di garis finish ditentukan jauh sebelumnya bahkan sebelum kita memulai lomba lari. Proses itu dimulai dengan latihan rutin, mempersiapkan kondisi fisik dan mental, serta berusaha sekuat tenaga memenangkan perlombaan ketika sudah berada di jalur lomba (on the track). Demikian juga dengan keadaan kita di akhirat ditentukan oleh perbuatan kita di dunia ini. Oleh karena itu, kita harus merencanakan dengan baik kebahagiaan kita di akhirat dan mempersiapkan langkah-langkah untuk mencapainya ketika kita masih diberi waktu dan kehidupan di dunia ini.

Terkait dengan keseimbangan kepentingan duniawi dan ukhrawi ini Allah menyuruh kita untuk dapat menyeimbangkannya. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra [17]:29)

Ayat ini menjelaskan untuk bijak dalam mempergunakan harta. Kita memang dianjurkan untuk mendermakan sebagian harta berupa zakat, infaq, shadaqah, waqaf, dan hibah namun, kita dilarang untuk terlalu royal dalam berderma. Hal ini karena di dalam harta kita ada hak diri kita sendiri dan keluarga. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terlalu menahan harta untuk didermakan karena di dalam harta kita juga terdapat hak-hak orang lain seperti kaum fakir-miskin dan anak-anak yatim.

Kalau kita matrikskan, terdapat 4 kelompok manusia. Pertama yaitu mereka yang merugi di dunia dan akhirat. Kedua, mereka yang bahagia di dunia namun merugi di akhirat. Ketiga, mereka yang kurang bahagia di dunia, namun bahagia di akhirat. Keempat, mereka yang bahagia dunia dan akhirat. Tujuan utama kita adalah bahagia dunia dan akhirat sebagaimana yang tergambar dalam doa kita:

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia dan akhirat, dan lindungilah kami dari azab negara.” Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang tela mereka kerjakan, dan Allah Mahacepat perhitungannya. (QS. Al-Baqarah [2]:201-202).

Graphic2

Gambar 2 Matriks Kebahagiaan Dunia & Akhirat

Teladan Ilahi lainnya mengenai perencanaan lainnya ditemukan dalam QS. Ali ‘Imran [3]:54:

“Mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, dan Allah juga membuat tipu daya. Dan, Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.”

Pada akhirnya, kita harus paham bahwa sebaik apapun rencana kita, tetapi rencana Allah Swt juga yang berlaku. Jika demikian halnya, berarti kita tidak perlu repot-repot membuat rencana? Toh, pada akhirnya rencana Allah Swt juga yang terjadi?

Bukan begitu halnya. Memang, yang terjadi pada akhirnya adalah kehendak Allah Swt Yang Mahakuasa dan Maha Menghendaki. Tetapi ini tidak menafikan kita untuk membuat rencana. justru kita harus berusaha agar rencana kita itu sejalan dengan rencana Allah Swt, yaitu dengan merencanakan hal-hal yang terbaik. Di samping itu, kita juga harus lebih mendekatkan diri dengan-Nya. Kalau kita dekat dengan seseorang, maka apa keinginan akan dipenuhi. Demikian juga kalau kita dekat dengan Allah Swt, rencana kita pun akan terwujud. Sekarang mari kita bertanya, sudah sedekat apakah kita dengan Allah Swt? Barangkali kegagalan demi kegagalan yang kita alami karena kita kurang mendekatkan diri kepada-Nya.

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: