//
you're reading...
Cinta, Renungan

Mengelola Fitrah Cinta dan Kasih Sayang Karena Allah

Allah memiliki sifat Arrahman dan Arrahim. Sifat ini paling banyak disebut karena mengatasi sifat lain. Allah sendiri menciptakan alam semesta agar makhluk-Nya bisa merasakan cinta dan kasih sayang-Nya.

Cinta dan kasih sayang sesama makhluk hanyalah fraksi kecil bila dibandingkan cinta dan kasih sayang Allah yang akan diungkapkan pada saatnya nanti. Dalam kumpulan hadits yang dibuat oleh Muslim Ibn al-Hajjaj al-Qusyayri, menyebutkan bahwa Allah memiliki seratus kasih sayang, dan satu di antaranya Allah bagikan kepada jin, manusia, dan seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan 99 kasih sayang Allah yang lain, Allah simpan untuk ditunjukan di hari kiamat kelak.

Manusia adalah makhluk spesial ciptaan Allah karena diberi  potensi –berupa pemberian ruh langsung oleh Allah– untuk dapat meniru sifat-sifat mulia Allah. Hal ini Allah terangkan dalam surat Shaad ayat 72:

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.

Dalam surat tersebut, Allah meniupkan ruh-Nya kepada manusia. Sehingga, manusia memiliki fitrah untuk menyayangi dan mencintai kepada apa pun juga, seperti sifat Allah: Arrahman dan Arrahim.

Cinta dan kasih sayang ini juga bagian dari fitrah makhluk Allah sebagai sarana melanggengkan eksistensinya. Allah sendiri menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan agar bisa melanjutkan generasinya.

Manusia sendiri difitrahkan memiliki rasa cinta dan kasih sayang, khususnya kepada lawan jenis. Hal ini merupakan sunatullah dan tidak bisa dihindari. Namun, agama mengatur cara mengungkapkannya sesuai dengan ukurannya agar indah dan tidak merusak. Bagaimana pun, Allah menciptakan alam semesta ini sesuai dengan ukuran-ukurannya. Ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Qamar ayat 49:

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

Cinta dan kasih sayang harus diungkapkan dengan baik dan benar sesuai dengan ukurannya. Bila tidak, bisa merusak. Aturan cinta dan kasih sayang ini perlu dipelihara, sehingga bisa terpelihara dan keindahannya selalu terjaga serta menjadi benteng yang kokoh.

Contohnya saja pada pasangan suami-isteri. Cinta dan kasih sayang bisa menjadi benteng yang sangat kuat untuk menghadapi cobaan dan ujian dari Allah. Bila kita mampu menjaga nuansa cinta dan kasih sayang, kita akan memiliki perlindungan yang baik untuk menghadapi tantangan besar dan badai kehidupan.

Namun, seringkali manusia tidak mengetahui hikmah yang tersembunyi di balik sebuah cobaan dan ujian. Terlebih lagi apabila seorang manusia telah menggunakan egonya. Biasanya mereka akan kalah dan cenderung mempertanyakan tentang ujian dan cobaan yang menimpanya.

Contohnya ketika seseorang mengungkapkan perasaannya ke lawan jenis yang disukainya. Kemudian mereka yakin bahwa hubungan mereka akan berujung di pelaminan. Namun, ternyata mereka putus di tengah jalan.

Fenomena ini biasa terjadi di masyarakat, tetapi orang seringkali kesulitan menyikapinya. Bila tidak hati-hati, bisa menyebabkan frustasi dan merasa dunia selebar daun kelor. Ekstremnya, hal ini bisa berpengaruh ke sendi-sendi kehidupan seseorang, misalnya bisa menyebabkan sekolahnya tidak selesai dan masuk rumah sakit karena masalah kejiwaan.

Sering kalahnya manusia dalam ujian dan cobaan cinta dan kasih sayang, merupakan kasus nyata yang biasa mendera kaum muda. Padahal, generasi muda sangat diharapkan oleh zaman sebagai agen perubahan. Sangat sayang apabila mereka harus hilang dalam perjuangan zaman hanya karena urusan cinta dan kasih sayang. Mereka hanya tidak mampu mengelola fitrah yang sangat mendasar ketika menghadapi ujian kehidupan.

Ketika kaum muda putus cinta, seolah-olah putus pula kesempatan mendapatkan kasih sayang dari lawan jenis. Padahal tidak. Kesempatan mereka untuk mendapatkan kasih sayang dalam koridor yang benar masih terbuka lebar.

Meskipun begitu, sebaiknya kaum muda mengharapkan cinta dan kasih sayang dari Allah. Cinta dan kasih sayang tertinggi dan terbaik dibandingkan cinta dan kasih sayang manapun. Kita pun seharusnya selalu berprasangka positif terhadap Allah. Sehingga mampu menjadikan kita menerima kenyataan apabila ungkapan cinta dan kasih sayang terhadap sesama terputus di tengah jalan.

Kita pun jangan sampai kehilangan pegangan hidup, yaitu Islam. Bagaimana pun, sesuatu yang kita peroleh adalah hasil terbaik yang diberikan Allah. Meskipun pada awalnya kita tidak memahami dan merasa sakit, tapi apabila kita percaya bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik, kita akan ikhlas menerimanya.

Lalu, bagaimana memelihara dan mengelola perasaan cinta dan kasih sayang yang baik terhadap lawan jenis?

Biasanya, sebelum berumah tangga, seorang pemuda selalu menggebu-gebu untuk segera menikah. Tetapi, setelah berubah tangga, akan terasa hambar karena semuanya sudah diketahui dan terbuka. Impian yang pernah dicita-citakan sebelum menikah dulu, seringkali kandas dalam pertikaian, kekerasan dalam rumah tangga, dan perceraian. Dalam hal ini, ada kegagalan dalam mengelola cinta dan kasih sayang.

Penyebab rangkaian masalah tersebut harus bisa ditemukan. Dalam hal ini, Rasulullah bisa menjadi suri tauladan dalam memelihara keharmonisan keluarga. Hal ini penting. Karena, dengan memelihara keharmonisan rumah tangga, sumber energi kehidupan kita tidak akan pernah habis. Kita akan selalu mendapatkan semangat dan optimisme.

Rasul sendiri selalu memberikan kehangatan kepada isteri-isterinya, terutama Aisyah. Beliau selalu bermain serta memuji Aisyah. Sederhana dan mudah dipraktekan untuk memelihara kehangatan. Misalnya saja dengan mengamalkan untuk mencium isteri 3 kali dalam sehari. Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Kalau bisa, dihadapan anak-anak agar mereka bisa melihat bahwa orang tuanya harmonis.

Rasul juga selalu mencontohkan untuk menyampaikan kata-kata sugesti yang baik kepada isteri setiap hari seperti, “Kamu cantik sekali hari ini.” Rasul mencontohkannya dengan selalu memanggil Aisyah dengan julukan si “pipi merah”. Ekspresi seperti ini, meskipun tampak mengada-ngada, tetapi sungguh bagian dari doa yang terungkap dari dalam hati.

Sehingga tidak perlu membelikan alat-alat kecantikan yang mahal agar isteri menjadi semakin cantik dari hari ke hari. Cukup dengan memujinya setiap hari, maka isteri akan terlihat lebih cantik, meskipun semakin tua dari hari ke hari. Karena kecantikan isteri ada di dalam hatinya.

Amalan kebaikan ini akan selalu dilihat oleh Allah. Allah pun berjanji bila ada hambanya yang melakukan kebaikan dengan berusaha memelihara kasih sayang sebagai seorang suami karena Allah, Allah akan semakin mendekatinya. Bila hambanya mendekati dengan berjalan, Allah akan menjemputnya dengan berlari. Janji ini sepatutnya dijadikan motivasi bagi kita untuk selalu menjaga keluarga kita sebaik-baiknya.

Sehingga, jangan menghabiskan cinta dan kasih sayang pada masa sebelum menikah. Masih ada perjalanan panjang dalam rumah tangga nanti.

Bagaimana pun, keluarga yang dibangun dengan cinta, akan membentuk masyarakat yang kokoh. Karena keluarga adalah pondasi dari sebuah masyarakat, dan nilai dari keluarga adalah cinta. Sehingga kita selalu dituntut untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah apabila mendambakan masyarakat madani dan negara yang makmur.

Disarikan dari wawancara antara SalmanITB.com dan Hermawan K Dipojono

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: