//
you're reading...
Pendidikan

ILMU PENGETAHUAN BUKAN SEKEDAR TITEL

Pernahkah Anda mendengar lagu “Gaudeamus Igitur”? Lagu yang sering dinyanyikan pada saat acara pelepasan kelulusan atau wisuda. Mungkin sebagian besar orang belum pernah mengetahui makna syair lagu ini dan mengapa lagu ini yang sering diperdengarkan pada acara pelepasan kelulusan akademik. Cobalah simak syair beserta arti lagunya di bawah ini:

’Gaudeamus Igitur’

Gaudeamus igitur, Juvenes dum sumus
Post jucundam juventutam, Post molestan senectutam
Nos habebit humus, Nost habebit humus

Vita nostra brevis est, brevi finie tur
Venit mors velociter, rapit nos atrociter
Nemini parcetur! Nemini parcetur!

Ubi sunt qui ante nos, in mundo fuere?
Vadite ad superos, Transite ad inferos
Ubi jam fuere? Ubi jam fuere?

Vivat academics, vivant profesores!
Vadite membrun quadlibet, vivant mambra qualibet
Samper sint in flore! Samper sin in flore!

(Terjemahan oleh Pater Kornelius Keyrans, OFM)

‘Mari Bergembira’

Mari kita bergembira, selama masih muda
Sesudah masa muda yang menggembirakan. Sesudah masa tua yang menyusahkan,
Kita akan turun ke kubur, kita akan turun ke kubur

Hidup kita hidup pendek, akan berakhir dengan cepat
Maut itu akan segera datang, merampas kita dengan kejam
Tak seorang yang dikecualikan

Di manakah orang-orang yang pernah ada? Di dunia ini sebelum kita?
Carilah ke daerah atas, pergilah ke daerah bawah
Di manakan mereka berada?

Hiduplah perguruan tinggi, hiduplah para profesor!
Hiduplah setiap anggota, hiduplah kita semua
Semoga selalu berkembang subur! Semoga selalu berkembang subur!

Kali ini saya mencoba belajar menulis dan berbagi cerita dengan anda selama saya menuntut ilmu. Hanya berniat baik mengambil buah pelajaran hidup yang digambarkan dengan sederhana.

Pada saat saya kuliah saya baru tahu ada subbab kuliah filsafat ilmu. Sejak dulu saya belajar hanya menjalani saja belum sempat berfikir apa tujuan saya sekolah bahkan hingga masuk perguruan tinggi yang sebenarnya. Mungkin ada pencapaian-pencapaian akhir seperti membahagiakan orangtua, dapat pekerjaan yang layak, gaji besar, bisa jadi bos, dapat titel, balik modal, dihormati orang dan berbagai pencapaian yang umum orang pikirkan. Sangat manusiawi kok.

Saat kuliah saya sempat berhadapan dengan beberapa proses yang tidak menyenangkan. Mulai harus tinggal di asrama jauh dari orangtua, mengirit uang untuk fotocopi tugas, tidak tidur mengerjakan tugas deadline, ketemu dosen yang menyebalkan, begadang SKS (Sistem Kebut Semalam) sebelum ujian, turun lapang di desa (fasilitas seadanya), kerja di rumah sakit bertemu penderita kanker (tidak tegaan), laptop dirampok dengan data skripsi dan laporan magang yang mau dikumpul, hingga dihadapkan dengan 3 dosen pembimbing dengan 3 mindset pandangan berbeda. Saat-saat yang paling berat adalah saat-saat mengerjakan skripsi di mana saya yang terbiasa kerja kelompok harus bekerja sendirian dengan kemampuan saya yang juga standar. Namun akhirnya saya bisa lulus juga walaupun dengan nilai IPK 3 koma yang pas-pasan.

Semua itu membuat saya teringat lagi dengan hakekat ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam subbab kuliah Filsafat Ilmu. Ada 4 jenis manusia dan hubungannya dengan pengetahuan: 1)Tahu bahwa dia tahu, 2)Tahu bahwa dia tidak tahu, 3) Tidak tahu bahwa dia tahu, 4) dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Berdasarkan beberapa pengalaman yang pernah saya jalani selama kuliah mungkin saya pernah menjadi keempat jenis manusia tersebut di saat-saat yang berbeda. Namun kesemua itulah yang menjadikan saya belajar apakah hakekat pengetahuan yang ada.

Berilmu bagi saya adalah proses menjalani kehidupan. Semua permasalahan akan lebih mudah jika kita selalu mengambil pelajaran/hikmah dari setiap detik proses kehidupan yang berjalan. Skripsi dengan lima langkah utama yang selalu diajarkan yaitu perumusan masalah, pengamatan, klasifikasi, perumusan pengetahuan (definisi), prediksi, dan verifikasi benar-benar membiasakan diri saya untuk berfikir lebih teratur/sistematis. Hal ini pun tanpa disadari berjalan secara otomatis di bawah pikiran alam sadar berperan mengubah diri saya menjadi manusia yang lebih baik. Prinsip yang saya temukan adalah ”Kesempuranaan adalah proses memperbaiki kesalahan untuk mencari kebenaran yang hakiki”. Jadi apapun bidang yang digeluti semua berproses dari diri sendiri.

Dengan begitu ilmu pengetahuan bukanlah sekedar gelar. Saya bersyukur bertemu dengan manusia-manusia unik di lingkungan akademis yang notabene mereka adalah manusia sederhana yang mencoba menciptakan sesuatu luar biasa. Saya belajar soft-soft skill dari para guru besar. Satu ciri khas yang saya temukan dari mereka adalah KETEKUNAN. Mereka umumnya orang-orang tekun yang konsisten terhadap apa yang mereka lakukan. Tidak ada manusia bodoh di dunia ini, yang banyak adalah manusia-manusia malas. Padahal Tuhan telah menganugerahkan akal kepada manusia agar mereka beriman dan bersyukur. Hakekat ilmu pengetahuan adalah hakekat kepada Tuhan sang Pencipta alam semesta. Seperti dikutip pada ayat Al-Qur’an sebagai berikut: ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda bagi orang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring. Mereka memikirkan kejadian langit dan bumu, sambil berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Kau jadikan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali-Imran : 191-192).

Jadi, Ilmu pengetahuan bukanlah sekedar gelar. Mengutip syair “Vivat academics, vivant profesores!, Vadite membrun quadlibet, vivant mambra qualibet, Samper sint in flore! Samper sin in flore!”. Saya yakin penganugerahan ”Profesor” bukan hanya sekedar gelar. Orang-orang istimewa yang belajar ilmu dengan ketekunan dan kerendahatian di hadapan sang Pencipta lah yang akan menjadi orang-orang terpilih yang akan diangkat beberapa derajat. Bergembiralah sepanjang umur masih muda yang artinya bersemangatlah selama anda masih diberikan waktu untuk hidup. Senangilah ilmu pengetahuan dengan hakekat sederhana. Karena ilmu pengetahuan bukanlah sekedar gelar. Bagi anda yang sudah bergelar, bersyukurlah… Karena semua adalah anugerah yang Kuasa. Namun teruslah berjuang dan bermanfaat bagi orang banyak. Malu jika berhenti belajar dari kehidupan.

sumber:wardincute.multiply.com/journal/item/23/ILMU_PENGETAHUAN_BUKAN_SEKEDAR_TITEL

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: