//
you're reading...
Renungan

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)

RENUNGAN AKHIR ZAMAN (Karena Ada Yang Dilupakan)
renungan

Ketika pelita menampakkan sinarnya di malam kelam, maka laron-laron berdatangan mencari jalan kehidupan. Mereka menitipkan pesan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan kelapangan. Laron-laron itu merupakan contoh komunitas awam. Di dalam kegelapan isi dada, mereka datang mencari jalan penerang kepada orang-orang pilihan, agar jalan yang ditempuh mendapatkan tuntunan.

Para Ulama zamannya, baik yang tinggal di pesantren maupun di tengah komunitas manusia, mereka itu bagaikan pelita-pelita yang memancarkan sinar di pinggir jalan. Mereka menunjukkan jalan, agar kehidupan laron-laron itu tidak tersesat di tengah jalan.

Demikianlah fenomena, maka cahaya Ilahiyah yang menerangi ufuk dada sang pelita tersebut tidak diputus di tengah jalan. Datang silih berganti sepanjang zaman dari rencana tarbiyah azali yang dirahasiakan. Supaya langkah laron-laron yang kenyang menyerap sinar pelita yang menjadi ikutan, tidak menjadi kehilangan arah lagi dan kebingungan.

Namun demikian, ketika pelita-pelita itu sudah waktunya harus dipadamkan, karena masa tugasnya memang harus bergantian, maka laron-laron itu hendaknya terbang menyebar, membawa seberkas sinar yang sudah didapatkan, menjadi kunang-kunang yang terbang riang, agar laron-laron lain ikut dalam rombongan.

Itulah sinar kehidupan, ketika matahari dan bulan sedang malas menampakkan senyuman, maka gemerlap bintang pun dapat mewujudkan impian. Jika tidak demikian, maka hantu malam akan menelan pandangan, hingga laron-laron menjadi kebingungan, jalan ke depan dihantui bayang-bayang.

Terlebih ketika kunang-kunang hanya sibuk mencari makanan, ketika sudah duduk di kursi mapan bersama rekanan mencari peluang, menjelma menjadi laba-laba membangun jaringan, menunggu mangsa yang datang sekedar untuk mengenyangkan perut yang sebenarnya sudah kenyang. Mereka lupakan ukuran yang harus dimakan dan lupa memberikan kepedulian, meski kepada teman-teman dalam perjuangan, yang telah bersama-sama berkeringat mengusung keberhasilan.

Maka setan dan peri malam datang bergentayangan, keluar masuk rumah dan penginapan, mencari orang-orang yang suka dimabuk harapan, merasuk sukma membangkitkan impian, hingga kunang-kunang menjadi lupa daratan. Lupa milik teman lupa milik lawan, asal dapat dimakan, seketika habis dalam sekali telan.

Namun demikian, ternyata akhirnya kunang-kunang nakal itu malah menjadi pesakitan, duduk di kursi yang tidak aman, tidur di kasur berselimut bayangan, pikiran menerawang menunggu keputusan, meronta tidak kuasa, pasrah tidak mampu membayangkan, karena pukulan palu pengadilan mengancam diri akan akhiri perjalanan dalam penderitaan.

Dalam keadaan demikian, dimana-mana muncul setan bergentayangan, memanfaatkan kondisi yang tidak menguntungkan, terang-terangan menuntut pengembalian uang yang sudah hangus ditelan zaman, berkasak kusuk minta harga jaminan, agar menjadi pelicin di dalam perjalanan, kalau tidak, maka kunang-kunang nakal akan dimasukkan kurungan.

Sedangkan laron-laron yang berterbangan, dengan sorot mata yang kosong, sebagian besar hanya dapat menonton dalam kebodohan, tidak mengerti mengapa kunang-kunang yang dihormati itu kini menjadi pesakitan.

Sementara itu, ada juga golongan yang kecewa dan marah tidak ketulungan, hingga dimana-mana mereka mengeraskan suara, menggerakkan masa yang seirama, karena merasa ditinggalkan kunang-kunang idaman, yang selama ini sebenarnya menjadi sumber harapan, namun ternyata telah terlebih dahulu melupakan kesepakatan, hingga harapan tinggal menjadi harapan dan kenyataan tidak kunjung datang.

Itulah potret kehidupan, seandainya kunang-kunang tidak lupa kesepakatan, selalu ingat kepada kawan yang dahulu menghantarkan perjalanan dan selalu memegang pesan yang disampaikan sang pelita yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kehidupan, sehingga pemerataan menjadi kenyataan, maka barangkali tidak ada kekecewaan yang berakibat penyesalan.

Namun itulah kenyataan, tinggal masing-masing hati pandai-pandai mengambil pelajaran, mencari mutiara hikmah yang tersembunyi sebagai pelajara, yang kadang-kadang diselipkan di balik kesusahan.

Mutiara hikmah itu adalah realita. Apapun bentuknya, apabila menjadikan orang susah dan menderita, maka itu berarti musibah dan siksa, namun apabila menjadikan orang sadar, menyesal terus kemudian taubat dengan taubatan nasuha, sehingga orang menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya, maka itu berarti hakikatnya adalah rahmat. Sebab, dengan kejadian itu orang akan mendapatkan pengalaman yang mahal yang akan mampu menancapkan keyakinan.

Yang terpenting. Agar kekecewaan tidak terulang sepanjang zaman, maka harapan harus dikondisikan. Sebab, arak kehidupan memang selalu memabukkan. (05-2006)

 

renungan

Bait-bait puisi diatas adalah sebuah potret kehidupan masa kini. Merupakan hasil renungan hati orang tua yang sedang kebingungan. Dimana antara yang benar dan yang salah sudah membaur di dalam satu kemasan, hingga para awam sulit membedakan. Masing-masing orang mengaku menjadi pahlawan, namun anehnya, ternyata mereka malah melakukan perampokan. Bahkan lebih jahat lagi, perampokan itu dilakukan di atas meja kantor sendiri, dilakukan secara sistematis dan terencana. Yang lebih parah lagi, ternyata hal itu jauh-jauh sudah dilegalkan dengan SK Raja yang sedang berkuasa.

Apakah manusia sudah kehilangan hati nurani, sehingga dengan perbuatan seperti itu mereka tetap saja merasa tidak bersalah, padahal jelas-jelas ada yang dirugikan, uang rakyat, uang mereka sendiri yang seharusnya mereka jaga, dan dengan tugas itu mereka mendapatkan kepercayaan dan bayaran dari rakyat pula. Apakah masing-masing kita memang harus berfungsi sebagai “pagar makan tanaman”..? Seandainya masing-masing kita mau merasa bersalah saja, barangkali keadaan negara dan bangsa ini masih memungkinkan dapat diharapkan menjadi baik, kalau tidak, entahlah apa yang akan terjadi nanti.

Demikian itu bisa terjadi, barangkali karena masing-masing manusia sudah jauh dari sinar kehidupan yang hakiki. Ilmu yang dimiliki hanya ilmu yang di luaran saja. Hanya hasil olah akal yang kadang-kadang sempat dikolaborasikan dengan dorongan hawa nafsu dan setan. Akibatnya, maka hukum rimba berlaku dimana-mana. Siapa yang kuat dan berkuasa, merekalah yang akan memenangkan perkara, sedangkan yang tidak punya apa-apa harus siap menderita, meringkuk di dalam sel penjara dalam waktu yang lama, meski mereka meronta bakal tiada guna, karena memang harus ada kambing hitam yang dikorbankan, sebagai “tumbal balak”, supaya yang masih punya kesempatan bisa menambah kepuasan. Jauh-jauh Rasulullah saw. telah memberikan peringatan dengan sabdanya:

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : سَيَأْتِى زَمَانٌ عَلى أُمَّتِى يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَآءِ وَ الْفُقَهَاءِ . فَيَبْتَلِيْهِمُ الهُُ تَعَالى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ . أَوَّلُهَا يُرْفَعُ الْبَرَكَةُ مِنْ كَسْبِهِمْ . وَالثَّانِيَةُ يُسَِلّطُ الهُُ تَعَالى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا . وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيْمَانٍ

“Akan datang suatu zaman atas umatku, mereka meninggalkan para Ulama’ dan para Bijak, maka Allah akan menimpakan ujian kepada mereka dengan tiga ujian. pertama: Dicabut barokah dari kasabnya. kedua : Dikuasakan kepada mereka penguasa yang dholim. ketiga : Mati dengan tidak membawa iman”.

Oleh karena terlebih dahulu mereka telah lari dari hidayah kehidupan, maka di setiap ada kesempatan, setan segera datang menerkam, hingga hidup mereka tidak membawa keberkahan, selalu diliputi kesusahan, karena mereka mendapatkan penguasa yang dholim yang tidak berprikemanusiaan dan akhirnya mati di dalam kehinaan, baik di dunia mapun di akhirat dalam kesengsaraan. Dewasa ini, komunitas manusia menjadi tidak ada bedanya dengan kumpulan serigala, siapa perbuatan salahnya kelihatan akan dimangsa bersama, tidak peduli itu siapa dia, walau pimpinan yang dahulu telah berjasa. Wal ‘iyaadzu billah.

Ketidakadilan telah merata dimana-mana, itulah yang memang dikehendaki oleh sebagian manusia. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya ketikadadilan itu telah dibudayakan, bahkan sejak kehidupan murid masih di bangku sekolahan tingkat dasar. Murid-murid itu bahkan dijadikan ajang pasar dadakan, setiap perusahaan bisa menawarkan barang dagangan di sekolahan, asal para guru dan kepala sekolah mendapatkan bagian keuntungan. Bahkan pejabat pemerintahan telah berkonspirasi untuk melakukan korupsi, bersama pemilik penerbit buku dan percetakan, memanfaatkan pergantian tahun ajaran, mereka bersama-sama menjual buku pelajaran dengan sistem paksaan yang sengaja dibudayakan.

Sebagian besar manusia hanya mementingkan diri sendiri, diperbudak oleh kehidupan duniawi, maka harta benda adalah tuhannya yang hakiki. Oleh karena itu, kalau sudah terjadi persaingan, baik di dunia bisnis maupun politik, tidak peduli lagi walau yang menjadi saingan adalah mertua sendiri, asal disitu orang memenangkan kesempatan, bahkan orang tuapun tetap dilahap dan dihabisi oleh ambisi pribadi.

Supaya ilmu yang dimiliki tidak menjadi jauh dari hidayah Allah Ta’ala, maka hadits Nabi saw. dibawah ini memberikan jalan keluar dan penyelesaian.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَرَادَ أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُلاَزِمَ خَمْسَ خِصَالٍ : اَلاُوْلى صَلاَةُ اللَّيْلِ وَلَوْ رَكْعَتَيْنِ . وَالثَّانِيَةُ دَوَامُ الْوُضُوْءِ . وَالثَّالِثَةُ إتقوى فِى السِّرِّ وَالْعَلاَنِيَّةِ . وَالرَّابِعَةُ أَنْ يَأْكُلَ لِلتَّقْوى وَلاَ لِلشَّهَوَاتِ. وَالْخَامِسَةُ اَلسِّوَاكُ .

Rasulullah saw. bersabda: “ Barang siapa yang ingin menjaga ilmu yang ada pada dirinya, ia harus melaksanaan lima kebiasaan : Satu : Sholat malam walaupun hanya dua raka’at. Dua : Dawaamul wudhu’ (menjaga kesucian). Tiga : Takut kepada Allah baik dalam kondisi sepi maupun ramai. Empat : Makan hanya untuk kepentingan takwa, bukan menuruti nafsu syahwat. Lima : Bersiwak”.

Bukan ilmu itu saja yang harus dijaga dengan pemeliharaan yang baik, namun juga hidayah Allah yang menyertai ilmu itu. Hidayah itu harus dijaga dengan pendekatan diri kepada yang memberikan hidayah, Allah Subhanallahu Ta’ala.

Maka orang harus dekat kepada para Ulama sejati, karena disana ada pencerahan hakiki, baik melalui tutur kata maupun do’a-do’a yang dipanjatkan setiap hari, menjadi penyejuk hati dan pengingat diri, agar hawa nafsu dapat terkendali dan setan tidak memperdaya diri. Seperti filter yang menyaring kotoran, sehingga hati selalu dalam penjagaan dan pemeliharaan, karena Allah Ta’ala telah menurunkan pertolongan. Demikianlah sabda Nabi saw. menegaskan:

جُلُوْسُ سَاعَةٍ عِنْدَ الْعُلَمَآءِ أَحَبُّ إِلى اللهِ مِنْ عِبَادَةِ اَلْفِ سَنَةٍ

“Duduk sesaat di tengah-tengah para Ulama’ lebih disukai oleh Allah dari pada ibadah sendiri seribu tahun”.

Ketika Ulama sudah waktunya harus kembali mendatangi panggilan Ilahi, seperti lampu yang telah dipadamkan pada malam hari, maka alam kehidupan akan menjadi gelap gulita kembali. Akibatnya, ketidakadilan terjadi dimana-mana karena orang tidak dapat mempergunakan mata, kemudian manusia menjadi semakin liar karena orang takut tidak mendapatkan bagian. Hingga akhirnya orang saling berusaha membunuh kawan, jika tidak demikian, takut terbunuh duluan. Kalau sudah demikian, berarti ambang kehancuran sudah berada di pintu gerbang. Contoh akibat ketikadadilan, maka kantor dan pendopo Bupati Tuban, yang dibangun dengan uang rakyat telah menjadi korban kebrutalan, dibakar amuk masa karena rakyat merasa dikecewakan oleh penguasa yang sedang berjaya.

مَوْتُ الْعَالِمِ مَوْتُ الْعَالَمِ
“Matinya Ulama’ adalah matinya alam”.

Oleh karena itu, orang harus punya rasa penyesalan, mengapa mereka selama ini jauh dari kebaikan, lupa diri sehingga meninggalkan Ulama yang telah menjadi panutan. Karena penyesalan itu bisa menjadi penawar, bagaikan angin yang mengusir awan mendung yang bergantungan, ketika ulama-ulama itu memang harus pergi duluan, dengan penyesalan itu supaya orang menjadi ingat kepada apa yang sudah ditinggalkan.

 

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يخزن يموت عَالِمٍ إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالى لَهُ ثَوَابَ اَلْفِ عَالِمٍ وَاَلْفِ شَهِيْدٍ

” Barang siapa merasa bersedih dengan matinya Ulama’, akan ditetapkan baginya pahala seribu Ulama’ dan seribu Syuhada’”.

** Hadits-hadits Nabi saw. diambil dari kitab Durrotun Nasihin **

(malfiali, Nofember 2008)

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: