//
you're reading...
Uncategorized

Mencari ilmu itu untuk apa seh?

Dulu ketika kecil kita sering berbangga dengan kawan tentang cita-cita. Ketika ditanya guru di sekolah, “kamu kalau sudah besar ingin jadi apa?”, dengan pongahnya dijawab, “saya pengen jadi presiden!”. Teman lain tak mau kalah, dengan bangganya ia pun menjawab, “saya pengen jadi dokter!”. Murid lain menjawab, “saya ingin menjadi ABRI!”. Banyak sekali cita-cita yang tertoreh sejak kala itu. Ketika memasuki sekolah menengah idealisme ini mulai pudar dan cara berpikir mulai berubah. Mulai berpiir lebih riil, muncullah pemikiran yang berorientasi kerja. “Jikalau sudah besar nanti, saya mau bekerja sebagai ini dan itu di tempat ini dan itu!”. 

Sahabat budiman, namun sayang sekali bila niat belajar hanya sampai disitu. Ada yang lebih patut untuk dikejar. Belajar adalah pekerjaan yang sangat mulia. Namun kemuliaan ini tidak semua orang yang mendapatkannya. Kemuliaan ini akan diraih apabila benar niatnya, karena niat merupakan titik tolak. Sayang sekali bila pencarian ilmu yang telah menghabiskan banyak waktu, energi, perasaan, dan biaya tidaklah berfaedah bagi si pencarinya, selain `prestise` dan `materi` yang sangat sedikit sekali. Ini karena salah dalam berniat. Agar tidak sia-sia pencarian yang dilakukan, kepada para si pelajar, periksalah niat sebelum berenang terlalu jauh di samudera ilmu yang tak bertepi.

Suatu saat seorang anak muda datang kepada imam Syafi`i ingin belajar
Ia berkata, “wahai imam, saya ingin belajar”.
Imam bertanya, “untuk apa engkau belajar, nak?”
Ia menjawab: “saya ingin menjadi orang `alim”.
Imam menjawab balik, ” pulanglah dan luruskanlah niatmu dulu, nak!”

Di tahun selanjutnya dia datang lagi kepada imam
Ia berkata, “saya ingin belajar”.
Imam kembali bertanya, “untuk apa engkau belajar?”
Ia menjawab, “saya ingin beribadah kepada Allah”.
Maka sang imam menerimanya belajar dan berkata, “ini “saatnya engkau belajar, engkau telah membenarkan niatmu.”

Niat adalah pokok sebuah pekerjaan. Niat ibarat ruh bagi sebuah amal. Ketika amal tanpa ruh, ia ibarat mayat yang tak bernyawa. Tidak ada artinya dan tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi si empunya diri.
Di dalam sebuah hadits sahih dijelaskan:
“Betapa banyak amalan yang bentuknya adalah amalan duniawi namun kemudian menjadi amalan akhirat karena bagusnya niat. Namun betapa banyak amalan yang bentuknya amalan akhirat, kemudian menjadi amalan duniawi karena niat yang salah.”
Makan, minum dan tidur adalah kebiasaan dan kebutuhan asasi sehari-hari manusia. Namun semuanya bisa menjadi amalan akhirat dan bernilai ibadah, ketika diniatkan agar kuat beribadah kepada Allah. Bentuk pekerjaannya tetap sama, namun niat yang membuatnya beda. Niat yang membuatnya berarti, karena ada ruh yang akan menghidupkannya. Sebaliknya banyak shalat, rajin tilawah dan gemar derma, yang merupakan bentuk ibadah dan mengantarkan kepada ridha Allah, justru berpotensi mendatangkan murka Allah, karena riya` dalam beramal.

Kepada para pelajar, jangan sampai sia-siakan pengorbanan yang telah dikerahkan selama belajar. Status pelajar yang sedang anda lakonkan adalah pekerjaan mulia. Anda sedang mengemban warisan para nabi dan Rasul Saw. Derajat anda mulia di sisi Allah dan anda juga mulia di hadapan makhluq Allah. Jangan sampai pengorbanan bertahun-tahun hanya mendapatkan keletihan dan penyesalan! Jangan sampai mata yang sudah bertanggang karena dipakai begadang selama belajar dan badan yang kurus karena sering puasa selama belajar menjadi tidak berarti, karena salah dalam berniat. Ikhlaskanlah niat karena Allah. Jangan niatkan belajar demi si fulan dan mazhab si fulan, karena mereka tidak akan memberikan manfaat kepada anda, selain membuat anda semakin picik dan akal anda semakin tumpul oleh doktrinannya!

Kepada para pelajar budiman periksalah niat anda setiap saat. Perbaharui niat ketika ada yang melenceng dari tujuan awal. Guru-guru kita menasehatkan, ketika belajar berniatlah untuk:
1. Mendapatkan ridha Allah.
Ketika Allah ridha, maka hidup akan lempang dan akhiratpun terjamin. Di akhirat kelak tiada seorang puan yang masuk surga kecuali dengan ridha Allah. Amalan yang banyak tiada berguna ketika Allah murka! Tapi ketika Allah ridha, miskin amalpun, kebahagiaan hakiki tetap bisa diraih! Bukankah Allah menciptakan kita agar kita mengabdi kepadaNya?!

2. Mendapatkan kebahagiaan di akhirat dengan meraih surga.
Dunia adalah ladang untuk menuju akhirat. Di dunia saat kita menanam, kelak di akhirat hasilnya bisa dipetik. Hanya ketika di dunialah seseorang bisa beramal, di akhirat tidak ada lagi kesempatan itu. Hanya ada penghitungan dan pertanggungjawaban amal. Jikalau akan memilih, pilihlah untuk bahagia disana!

3. Menghilangkan kebodohan dalam diri dengan cara belajar dan melenyapkan kebdohan dari orang lain dengan cara mengajarkan ilmu.
Belajar adalah ibadah. Memberikan ilmunya adalah bentuk shadaqah dan ilmu semakin kuat dan matang. Ada manfaat di dua sisi, murid dan guru. Ketika gairah ilmiah menggeliat, maka akan terjadi sebuah percepatan dalam pembangunan peradaban. Ketika kebodohan lenyap, maka akan ada masa depan yang menjanjikan. Pada suatu saat nanti, kita bisa merasakan kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Jangan malas belajar ilmu apapun yang dibolehkan dan jangan segan-segan untuk mengajarkannya! Karena ketika manusia meninggal, semua amalannya terputus kecuali shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholih untuk orangtuanya. Mahakaya Allah, ketika seseorang sudah berada di balik liang lahad, masih ada kesempatan untuknya menerima kiriman kebaikan dari ilmu yang diajarkanya yang bermanfaat oleh orang lain.

4. Menghidupkan agama Allah

Tugas para Nabi dan Rasul telah berakhir dengan meninggalnya mereka, namun risalah mereka tidak berakhir. Risalah yang mereka emban dari sisi Allah akan kekal sampai hari kiamat kelak. Risalah mereka diwariskan kepada para ahli ilmu. Tidak ada posisi di dunia ini yang lebih mulia dari pada posisi para nabi dan Rasul! Tidak ada maqam yang lebih tinggi dari pada maqam mereka. Di dalam hadits disebutkan “Dapat hidayahnya seseorang melalui perantaraanmu adalah lebih baik bagimu dari seekor kuda gagah.” Menyampaikan islam kepada seseorang sehingga ia memperoleh hidayah dari Allah maka itu lebih baik bagi Allah dari pada seekor kuda jantan gagah perkasa yang anda tunggangi di medan perang untuk berjihad. Pahalanya lebih besar! Bersunguh-sungguhlah belajar, karena anda sedang menjadi orang pilihan!

5. Melanggengkan keberadaan agama Allah di bumi, karena kelanggengan agama Allah itu dengan ilmu.

Jangan sampai risalah langit menjadi terputus dari satu generasi ke generasi selanjutnya, karena kemalasaan umat. Belajar dan ajarkanlah, agar islam diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ketika terjadi siklus dalam hdiup manusia maka corak zamannya akan berbeda pula, semakin ke ujung, maka kerusakan umat akan semakin parah. Sebarkanlah islam sejak sekarang! Sayangilah anak cucu anda! Namun tidak mungkin menyebarkan islam tanpa mengetahui islam!

6. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah berupa anugerah akal
Nikmat akal adalah anugerah terbesa Allah kepada manusia. Dengan akal Allah memberikan taklif (beban syariat). Kepada mereka yang tidak berakal, Allah bebaskan mengerjakan suruhan dan larangan agama. Subhanallah! Dengan akal manusia bisa menjadikan alam jagad raya untuk kemanfaatan besar dalam kehidupannya. Dengan akal manusia mampu merubah apa saja di bumi ini dengan teknologi yang memudahkan segala pekerjaannya. Jangan sia-siakan nikmat akal dan jangan pula sampai salah guna!

7. Mensyukuri nikmat Allah berupa badan sehat dan harta yang mencukupi.

Sehat-afiat adalah salah satu anugerah terbesar yang dimiliki oleh manusia. Apabila ketika bangun pagi seseorang bangun dengan badan yang sehat-afiat, ada pakaian yang menutupi tubuhnya serta ada makanan untuk hari itu, seolah seluruh dunia sudah dimilikinya. Badan yang sehat akan terasa rugi sekali bila tidak dimanfaatkan untuk meraih kemuliaan dan kebahagiaan! Betapa tidak enaknya menjadi orang bodoh itu, karena dunia yang luas ini akan terasa sempit baginya! Kata orang bijak: orang berilmu tidak akan pernah merasa asing di bumi ini, namun sebaliknya orang bodoh, tidak ada satupun tempat di dunia yang nyaman baginya. Orang berilmu kata orang ibarat ubi, asal ketemu tanah maka akan tumbuh! Betapa rugi sekali orang-orang yang memiliki kesempatan belajar namun tidak menggunakannya!

Sahabat budiman, syukurilah segala apa yang diberikan Allah untuk kebaikan kita sendiri. Persembahkanlah di jalan Allah melalui pekerjaan riil, dengan lisan atau melalui do`a yang tersimpan di dalam hati.

Betapa tidak layaknya seorang yang mencari ilmu untuk tujuan yang rendah! Di dalam sebuah hadits sahih disebutkan: “Orang yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah hidayah yang dimilikinya, maka ia tidak akan bertambah kecuali ia semakin bertambah jauh dari Allah.”
Semestinya seorang yang semakin banyak belajar, maka ia semakin mengenal Allah dan semakin dekat dengan Allah. Ibnu Hajar Haytami mengatakan: Ilmu yang sempurna adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah!

Tidak selayaknya para penuntut ilmu bila berniat hanya sekedar untuk untuk;
1. Mendapatkan popularitas dari orang lain (punya pamor)
Semua ini tidak akan bermanfaat bagi anda. Justru realitanya tidak sedikit popularitas yang memenjarakan dan membuat sengsara seseorang!
Di dalam hadits sahih lainnya dijelaskan: “orang yang paling berat azabnya di akhirat kelak adalah orang yang belajar dan Allah tidak memberikan manfaat kepadanya dari ilmunya”. Jangan sampai dipalingkan Allah dari ridhaNya karena kesalahan dalam memulai start! Betapa ruginya orang yang belajar namun orang lain mendapatkan manfaat dari ilmunya sedangkan dirinya tidak mendapatkannya, ibarat lilin yang menerangi orang lain. Anda belajar bukan untuk berpongah-pongahan dengan para cendikiawan!

2. Meraih perbendaharan dunia dari orang lain (berpikir untuk memperkaya diri dengan materi)
Aneh sekali! Kalaulah para Nabi dan Rasul berdakwah untuk mendapatkan segala kekayaan materi dan kenikmatannya, maka para Nabi dan Rasul adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkannya. Mereka akan menjadi orang-orang terkaya di dunia ini, tapi realitanya tidak demikian. Ilmu lebih mulia daripada hanya sekedar untuk mengejar duniawi yang sedikit, bersifat sementara dan fana. Ilmu mengantarkan anda menuju Allah dan kenikmatan abadi yang disediakan Allah! Justru dengan mengejarnya, dunia semakin lari, diri semakin hina dan kekayaan tdak diperoleh. Subhanallah, dunia justru mendatangi orang-orang yang megabaikannya!

3. Mendapatkan prestise di hadapan para penguasa untuk mendapatkan posisi tertentu di pemerintahan atau mendapatkan tempat di mata orang lain untuk hajatan tertentu.
Seharusnya ulama menasehati para umara agar tetap eksis dengan syariat Allah, sehingganya rakyat nyaman beribadah kepada Allah dibawah keadilannya dalam memimpin. Apakah anda akan menjadi singa ompong dan harimau tak berkuku di hadapan penguasa?! Akankah anda menjadi penolong untuk kezhaliman penguasa yang merajalela terhadap rakyat banyak yang di dalamnya ada keluarga dan sanak sudara anda sendiri! Apakah para penguasa itu kelak akan menyelamatkan anda dari pertanggungjawaban di hadapan Mahapenguasa dari para penguasa (malikul muluk). Oh, No!

Sahabat yang cerdas, periksalah niat anda kembali, mumpung belum terlalu jauh melangkah. Perjalanan dan perjuangan dihadapan masih panjang. Jangan sampai salah dalam memancangkan niat dan perjuangan menjadi sia-sia. Kalaupun sempat salah, anda masih punya banyak kesempatan untuk meluruskannya, agar pencarian anda bermanfaat dan diberkahi. Jangan sampai seperi kata orang “aku tuntut ilmu karena selain Allah, namun ilmu menolak, kecuali dicari karena Allah!”

Periksa dan pikirkanlah kembali niat anda, karean anda belajar butuh pengorbanan, perjuangan yang sangat melelahkan sekali! Ketika anda belajar, konsekuensinya anda harus rela meninggalkan kesenangan masa muda, kenikmatan kasur empuk di rumah orangtua, nikmatnya makan yang nikmat bersama keluarga, beratnya perpisahan dan tersiksa oleh kerinduan kepada keluarga dan kampung halaman! Anda harus membujang lama karena belajar dan anda mesti mengerjakan banyak tugas dari guru, dan dosen tapi hasilnya apa?!

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: