//
you're reading...
Renungan

Wasiat Imam Musa bin Ja’far Al Khadzim Tentang Pentingnya Akal

Wasiat Imam Musa bin Ja’far Al Khadzim as kepada Hisyam bin Hakam

– Tentang Pentingnya Akal

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.’ (QS. Qaf: 37) Yaitu yang dimaksud adalah akal.

‘Dan sesungguhnya Kami telah berikan hikmah kepada Lukman.’ Yaitu yang dimaksud adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Lukman telah berkata kepada anaknya, ‘Tunduklah kamu kepada kebenaran, niscaya kamu menjadi manusia yang paling berakal. Sesungguhnya kecerdasan amat mudah bagi orang yang memiliki kebenaran. Wahai anakku, sesungguhnya dunia adalah lautan yang dalam. Sungguh telah banyak sesuatu yang karam di dalamnya. Maka jadikanlah ketakwaan kepada Allah sebagai perahumu, bahan bakarnya adalah iman, layarnya adalah tawakkal, nahkodanya adalah akal, kompasnya adalah ilmu, dan para penumpangnya adalah sabar.’

Wahai Hisyam, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tanda. Adapun tandanya akal adalah berpikir, dan tandanya berpikir adalah diam. Dan, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tunggangan, adapun tunggangan akal adalah tawadu. Cukup merupakan kebodohan bagimu, kamu menunggangi sesuatu yang kamu dilarang menungganginya.

Wahai Hisyam, tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya melainkan supaya mereka mengenal Allah. Sesungguhnya orang yang paling baik penerimaannya di antara mereka adalah orang yang paling baik makrifahnya, dan orang yang paling mengetahui perintah Allah di antara mereka adalah orang yang paling baik akalnya, serta orang yang paling sempurna akalnya di antara mereka adalah orang yang paling tinggi derajatnya didunia dan di akhirat.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia. Yaitu hujjah yang tampak dan hujjah yang tidak tampak. Adapun hujjah yang tampak ialah para rasul, para nabi dan para imam, sedangkan hujjah yang tidak tampak adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang rasa syukurnya tidak disibukkan oleh sesuatu yang halal, dan kesabarannya tidak dibelenggu oleh yang haram.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang memenangkan sesuatu yang tiga atas sesuatu yang tiga yang lain, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya:

  • Barangsiapa yang menggelapkan cahaya pikirnya dengan panjang angan-angannya,
  • Barangsiapa yang menghapus kata-kata hikmahnya dengan kata-kata sia-sianya
  • Barangsiapa yang memadamkan cahaya pelajarannya dengan syahwat dirinya,

maka :

  • Berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya.
  • Barangsiapa yang menghancurkan akalnya maka berarti dia telah merusak agama dan dunianya.

Wahai Hisyam, bagaimana mungkin amal perbuatanmu bisa berkembang di sisi Allah, sementara hatimu lalai dari perintah-Nya, dan engkau mentaati hawa nafsumu yang hendak menguasai akalmu.

Wahai Hisyam, sabar dalam kesendirian merupakan tanda kekuatan akal. Barangsiapa yang mengenal Allah maka dia akan menyingkir dari ahli dunia dan orang orang yang mengharapkannya, serta hanya mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Allah; sementara Allah akan menjadi temannya di dalam ketakutan, menjadi sahabatnya di dalam kesendirian, akan mencukupkannya di dalam kemiskinan, dan akan melindunginya dengan tanpa bantuan keluarga besar.

Wahai Hisyam, kebenaran ditegakkan untuk mentaati Allah, dan tidak ada keselamatan kecuali dengan ketaatan. Ketaatan itu ditegakkan dengan ilmu, ilmu itu dengan belajar, dan belajar itu dengan akal. Selanjutnya, tidak ada ilmu kecuali dari ‘alim rabbani, dan mengetahui ilmu itu dengan akal

Wahai Hisyam, amal yang sedikit dari orang yang berilmu diterima dengan berlipat ganda, sementara amal yang banyak dari orang yang memperturuti hawa nafsu dan orang yang bodoh ditolak.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal rida bersama hikmah dengan tanpa dunia, namun tidak rida bersama dunia dengan tanpa hikmah, maka oleh karena itu perniagaan mereka beruntung.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal meninggalkan dunia yang berlebihan, apalagi dengan dosa. Mereka meninggalkan dunia sebagai sesuatu yang utama, dan meninggalkan dosa sebagai sesuatu yang wajib.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal melihat kepada dunia dan kepada ahlinya, lantas mereka mengetahui bahwa dunia tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, kemudian mereka pun melihat kepada akhirat, lalu mereka mengetahui bahwa akhirat pun tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, maka mereka pun mencari salah satu yang paling kekal di antara keduanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang-orang yang berakal, mereka meninggalkan kesenangan dunia dan mengharapkan kesenangan akhkat. Karena mereka tahu bahwa dunia adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari, dan demikian juga akhirat adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari. Barangsiapa yang mencari akhirat, maka dunia akan mencarinya, sehingga terpenuhi rejekinya; dan barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat akan mencarinya, sehingga ajal menjemputnya, sehingga dengan begitu rusaklah dunia dan akhiratnya.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, kenyamanan hati dari hasud, dan keselamatan di dalam agama, maka hendaklah dia merendahkan diri kepada Allah SWT di dalam menghadapi masalahnya dengan menyempurnakan akalnya. Barangsiapa yang berakal maka dia akan merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya, dan barangsiapa yang merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya maka dia telah kaya. Barangsiapa yang tidak merasa puas dengan apa yang mencukupkannya maka dia tidak akan menggapai kekayaan selamanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah menceritakan bahwa kaum yang saleh berkata, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan lah kepada kami rahmat dari sisi Engkau’ (QS. Ali Imran: 8), manakala mereka mengetahui hati mereka menyimpang dan kembali kepada kebutaannya.
Sesungguhnya tidak takut kepada Allah orang yang tidak mengetahui tentang Allah. Dan orang yang tidak mengetahui tentang Allah, hatinya tidak akan berdiri di atas makrifah yang kokoh, dan juga tidak akan menemukan hakikat makrifah di dalam hatinya. Tidaklah seseorang demikian kecuali orang yang ucapannya sejalan dengan perbuatannya dan batinnya sesuai dengan zahirnya.

Wahai Hisyam, Amirul Mukminin as telah berkata, Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari akal. Dan, tidaklah sempurna akal seseorang sehingga pada dirinya terdapat beberapa sifat berikut: Kekufuran dan kemusyrikan terjaga darinya, petunjuk dan kebaikan diharapkan darinya, kelebihan hartanya dikorbankan, ke-utamaan pembicaraannya terjamin, dan bagiannya dari dunia hanyalah makanan pokok. Dia tidak pernah merasa kenyang dengan ilmu selamanya. Kehinaan bersama Allah lebih dia cintai dibandingkan kemuliaan bersama selain-Nya. Ketawaduan lebih dia cintai dibandingkan kebesaran. Dia menganggap banyak sedikit kebajikan yang berasal dari orang lain, dan menganggap sedikit banyak kebajikan yang berasal dari dirinya. Dia melihat seluruh manusia lebih baik dari dirinya, sementara dia melihat dirinya sebagai manusia yang paling jelek di antara manusia yang ada.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berdusta, meski pun di dalam dusta itu terdapat kepentingannya.

Wahai Hisyam, tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki kekesatriaan, dan tidak ada kekesatriaan bagi orang yang tidak memiliki akal. Sesungguhnya manusia yang paling besar nilainya adalah orang yang tidak melihat dunia sebagai kehormatan dirinya. Ingatlah, sesungguhnya dirimu tidak mempunyai harga yang sesuai kecuali surga, maka oleh karena itu janganlah engkau menjualnya dengan selainnya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, ‘Sesungguhnya tanda orang yang berakal adalah tiga sifat berikut: Menjawab manakala ditanya, berbicara manakala orang lain sudah tidak mampu lagi bicara, dan memberikan pandangan yang menggambarkan kesalehan orang yang memiliki pandangan tersebut. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun salah satu dari ketiga sifat tersebut maka dia itu orang pandir.’

Sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, Tidaklah duduk di bagian depan majlis kecuali seorang laki-laki yang memiliki ketiga sifat di atas, atau salah satu darinya. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun dari ketiga sifat di atas, lalu dia duduk di majlis, maka dia itu orang pandir.’

Hasan bin Ali telah berkata, ‘Jika engkau meminta kebutuhan maka mintalah dari pemiliknya.’ Kemudian orang-orang bertanya, ‘Wahai putra Rasulallah saw, siapakah pemilik kebutuhan tersebut?’

Hasan bin Ali menjawab, ‘Yaitu orang-orang yang telah Allah SWT ceritakan di dalam Kitab-Nya. Allah SWT berfirman, ‘Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.’ (QS. az-Zumar: 39).

Hasan bin Ali berkata lebih lanjut, ‘Mereka itu adalah orang-orang yang berakal.’

Ali bin Husain telah berkata, ‘Duduk bersama orang-orang yang saleh akan mendorong kepada kebajikan. Bersopan santun kepada para ulama akan menambah akal. Taat kepada pemimpin yang adil merupakan puncak kemuliaan. Mengambil manfaat harta merupakan sesempurna-sempurnanya kekesatriaan. Memberi petunjuk kepada orang yang meminta nasihat merupakan pelaksanaan kewajiban nikmat. Dan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain merupakan kesempurnaan akal, yang di dalamnya terkandung kenyamanan badan, baik segera maupun lambat.’



About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: