//
you're reading...
Uncategorized

Dunia lebih Berharga atau akhirat??!!

By: Aa Fillah Abu Badr Ash-Shiddiqi
Pagi itu aku memacu kendaraan dengan kecepatan 40km/jam. Yah, sambil menikmati rintik hujan yang membawa aroma segar. Tak ku rasa, aku telah berada di muka kostku. Ku lihat jarum jam tanganku menunjukkan pukul 08:30. subhanallah, jarak 3 km dari wilayah kecamatan tempat aku menjual Hp dapat ku tempuh dengan waktu yang relatif singkat, 10 menit.

Di atas karpet hijau di kamar ku menginjakkan kaki. Sebelum ku lanjutkan dengan duduk menikmati hembusan kipas angin, ku masukkan tangan ke dalam saku untuk mengeluarkan uang hasil penjualan Hpku tadi. HUp!! Aku berusaha menelan ludah dengan keras, namun tak berhasil pula. 300 ribu, melayang tak ada bekas. Saku celanaku kosong berisi angin. Hatiku benar-benar merasa kecewa dan sangat kehilangan… setiap jarum jam melangkah ke detik demi detik berikutnya, uang itu seakan melambai-lambai di hadapan bayangku, sehingga membuatku selalu sedih dan berfikir di mana uang itu jatuh.

Huh…, akhirnya aku putuskan untuk kembali menghidupkan mesin kendaraanku, menyisir jalan yang ku lalui dengan pelan. Pandanganku tak henti-hentinya ku arahkan ke kanan dan kekiri dengan. Tapi, hasilnya juga nihil. Tak ku dapat apapun kecuali aku semakin lelah dan hatiku makin kesal. Aku berhenti sejenak, menenangkan hati dan pikiran, berusaha untuk berfikir normal. “Subhanallah…!!” tak ku rasa mata ini melelehkan air mata. Aku mulai sadar, bahwa 300 ribu itu hanya sebagian kecil dari dunia. Namun, kenapa aku merasa kecewa luar biasa.

Saudaraku, cerita -yang mungkin anda sangka bahwa itu hanya dibuat-buat- di atas, tapi -bisa saja- itu terjadi. Itulah, potret mental kita terhadap perbekalan dunia. Saat sedikit/sebagian pemberian Allah yang kita punya dan berada di genggaman seketika menghilang dan berpindah kepemilikan kepada orang lain, kita frustasi, stress, merasa seakan segalanya telah hancur. Apalagi itu adalah dunia yang satu-satunya atau bahkan kita ‘anggap’ sebagai tumpuhan dan penentu nasib masa depatn. Coba bandingkan saat kita terlewatkan dari dua rekaat sebelum subuh, apa yang kita rasakan? Adakah penyesalan, kecewa, sedih atau yang lain?
« رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ».
“Dua rekaat fajar (sebelum shalat subuh) itu lebih baik dari pada dunia seisinya.” HR Muslim.
Pernahkan kita melelehkan air mata kesedihan dan penyesalan saat kita terlewatkan dari sunnah tersebut? Padahal, lebih baik dari pada dunia dan sesisinya. Yup. Seharusnya kita lebih sedih dengan kehilangan akhirat daripada kehilangan dunia.

Kalau kita menyadari hakikat dunia, niscaya kita tidak akan pernah merasa kecewa saat dunia lenyap dari genggaman. Senyum keridlaan dan keikhlasan akan tetap tersimpul manis. Hati akan senantiasa yakin bahwa semua itu adalah milik Allah dan kepada-Nyalah semua dikembalikan.

« لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ ».
“Kalaulah dunia sebanding dengan sayap nyamuk di hadapan Allah, niscaya Dia tidak akan memberi minum seorang kafir pun meskipun hanya seteguk air.” HR At-Tirmidzi. Shahih.

Saudaraku…, seberapa tinggi perhatian kita terhadap nasib hari esok? Lebih berharga dunia ataukah akhirat? Mari kita renungkan kembali…

abubadr.wordpress.com/2010/12/03/dunia-lebih-berharga-atau-akhirat/

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: