//
you're reading...
Uncategorized

Pendeknya Hidup di Dunia

Berkata Ibnu Umar radhiyallahu anhu : Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memegang bahuku, kemudian bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau musafir “. Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari, janganlah engkau menunggu pagi hari. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Gunakan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematianmu”. (HR. Bukhari).

 

 

Hadis ini merupakan landasan tentang pendeknya angan-angan di dunia, dan seorang muslim tidak pantas menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang ia tenteram di dalamnya, namun seyogyanya ia menganggap hidup di dunia ini bagaikan orang yang sedang bersiap-siap untuk bepergian. Dan ia bersegera untuk melanjutkan perjalanannya.

 

 

Imam Ahmad ketika ditanya Al-Marwazi apakah yang dimaksud zuhud di dunia, maka Imam Ahmad menjawab, “(Zuhud yaitu) pendek angan-angan, yakni orang yang berada di pagi hari, maka ia berkata, ‘Aku tidak akan hidup sampai sore ini’.”

 

 

Aun bin Abdullah juga berkata, “Hari-hari yang paling bermanfaat bagi orang mukmin di dunia ialah hari dimana ia menduga tidak sampai hidup hingga akhir hari tersebut”. Ia juga berkata, “Barangsiapa menganggap besok adalah kematiannya, ia tidak menempatkan kematian pada kedudukan yang sebenarnya. Betapa banyak orang yang hidup di satu hari namun tidak dapat menuntaskan hari tersebut”.

 

 

Muhammad bin Wasi jika hendak tidur, ia berkata kepada keluarganya, ”Aku titipkan kalian kepada Allah, karena barangkali aku mati saat tidur dan aku tidak bangun lagi”.

 

 

Bakr Al-Muzani berkata, “Jika salah seorang dari kalian tidak dapat tidur kecuali jika meletakkan wasiatnya secara tertulis di samping kepalanya, maka lakukanlah. Karena ia tidak tahu barangkali ia tidur bersama penghuni dunia kemudian pagi harinya ia bersama penghuni akhirat”.

 

 

Pendeknya hidup di dunia ini digambarkan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang bersabda : “Apa urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia adalah seperti pengembara yang tidur siang di bawah pohon, ia istirahat (sejenak) dan kemudian beranjak meninggalkannya”. (HR.Ahmad).

 

 

Seorang muslim hendaklah menempatkan dirinya di dunia ini seperti orang asing yang sedang dalam perjalanan. Hatinya selalu terikat dengan negeri tujuannya, tempat ia menamatkan perjalanannya. Ia singgah di dunia hanyalah untuk mengumpulkan perbekalannya agar ia dapat melanjutkan perjalanan. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa kepada Allah Azza wa Jalla dengan bersegera berbuat amal kebaikan.

 

 

Mahmud Al-Warraq dalam syairnya berkata :

 

Janganlah engkau menunda mengerjakan kebaikan untuk esok hari

Karena barangkali esok hari datang sedang engkau telah mati

 

 

Dan bersungguh-sungguhlah dalam berbuat kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah).

 

 

Imam Bukhari pernah menulis syair :

 

Kerjakanlah ruku’ (shalat) yang baik di waktu luang

Sebab barangkali kematianmu datang secara tiba-tiba

Betapa banyak orang sehat yang engkau lihat

Namun jiwanya pergi meninggalkannya tanpa diduga

 

 

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah seseorang ketika telah menjadi mayit melainkan dalam keadaan menyesal”. Para sahabat bertanya, “Apa penyesalannya?”. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika ia orang baik, maka ia menyesal tidak menambah amal kebaikannya. Dan jika ia seorang pendosa, ia menyesal tidak mengerjakan amal kebaikan”. (HR.Tirmidzi).

 

 

Dengan demikian seorang muslim haruslah memanfaatkan sebaik mungkin umurnya yang masih tersisa, karena sisa umur itu tidak ternilai harganya. Said bin Jubair berkata : “Sisa umur seorang muslim adalah rampasan perang (sangat bernilai)”. Fudhail bin Iyadh berkata: “Perbaikilah sisa umur yang masih ada, niscaya dosa-dosa masa silammu diampuni. Karena jika engkau berbuat dosa di sisa umur ini, maka engkau disiksa karena dosa-dosamu di masa lalu dan dosa di sisa umurmu ini”.

 

Rabb seluruh sekalian alam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS.Al Hadid : 20).



About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: