//
you're reading...
Hukum

Beramal Karena Dunia

Di sebagian negeri kaum muslimin, kita temukan sekelompok manusia yang menampakkan kesholehan dan kebaikan pada dirinya. Namun, kesholehan dan kebaikan itu hanya bersifat sementara. Ada di antara mereka, orang yang rajin ber-infaq ketika “musim partai” saja. Sibuk kesana-kemari mencari anak yatim piatu yang siap disantuni, anak-anak muslim yang siap dikhitan, faqir-miskin yang siap dijamu. Amal sholehnya nanti di “musim partai” saja. Ada apa dengan amal sholeh tersebut? Jawabnya, karena ada tendensi lain; cuma karena ingin mendapatkan suara, dan hati rakyat jelata. Orang ini telah beramal bukan karena Allah, tapi karena dunia berupa kursi dan jabatan yang terkadang menghinakan dirinya, Islam, dan kaum muslimin. Karena dengan terjunnya ke dalam sistem perpolitikan yang haram telah menghinakan dirinya dan melanggar syari’at Islam. Sekalipun ia berkoar-koar, “Kami adalah pejuang Islam”, “Kami adalah pejuang rakyat”, “Kami berjuang tanpa pamrih”, dan lain sebagainya.

Sebagian orang terkadang mengajukan tender kepada pemerintah untuk menangani suatu proyek dengan slogan “membangun dan membantu umat” sebagai suatu andil dalam memberikan bantuan dan shodaqoh kepada umat; orang ini telah mendapatkan gaji resmi, namun ia tak puas sehingga kerakusannya kepada dunia mendorong dirinya untuk “menyunat” dana yang diberikan oleh pemerintah kepada dirinya. Orang seperti ini ketika melihat rupiah, matanya silau yang membuat dirinya lupa dengan slogan tersebut, yaitu “membangun dan membantu umat”. Kini ia bersenang-senang di atas penderitaan umat. Orang yang seperti ini tidak akan ikhlas bekerja, telah hilang prinsip tolong-menolong di atas kebaikan dan ketaqwaan dari dirinya. Dia hanya mau bekerja, jika mendapatkan imbalan, padahal sudah mendapatkan gaji bagi jerih-payahnya dari pemerintah dan atasannya. Inilah yang menghasung dirinya untuk “menyunat” uang yang diamanahkan kepada dirinya oleh pemerintah. Orang semodel ini akan membuat bangsa terpuruk di bawah garis kemiskinan. Karenanya, pekerja seperti ini harus dibumihanguskan dari medan perjuangan dalam membangun bangsa. Kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kemaslahatan yang bisa dipetik darinya.

Pembaca yang budiman, dunia merupakan salah satu fitnah (ujian) terbesar bagi keimanan seorang hamba. Demi harta seseorang terkadang berbuat apa saja, asalkan bisa meraihnya, baik dengan cara halal maupun haram. Tujuan hidupnya seolah hanya untuk mencapai kesenangan duniawi belaka, sehingga ketika beramal sholeh pun ia mengharapkan di balik itu kesenangan duniawi.

Allah telah menegaskan orang-orang yang seperti ini dalam firman-Nya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan”. (QS. Hud ayat 15-16)

Syaikh Muhammad bin Abdul Azis Al Qar’awiy-rahimahullah- berkata, “Allah -Azza wa Jalla- mengabarkan dalam ayat di atas tentang orang yang memiliki cita-cita yang rendah dan pandangan yang sempit yang menginginkan pahala atau balasan duniawi atas amalan-amalan sholeh mereka. Maka Allah -Ta’ala- memberikan balasan tersebut di dalam kehidupannya. Akan tetapi, dia akan merugi di hari kiamat nanti ketika ia sangat membutuhkan balasan amal ibadahnya itu, bahkan dengan perbuatannya itu dia telah menjerumuskan dirinya ke neraka. Sebab balasan dari amalan sholihnya telah dia rasakan di dunia. Maka telah terhapus dan hilang (balasan amalnya) serta tidak dapat menjadi sebab untuk menyelamatkan dirinya pada hari akhir”.

Syaikh Al-Qor’awiy-rahimahullah- menambahkan, “Mencari dunia dengan amalan akhirat terbagi menjadi tiga jenis:

  • Beramal sholeh (khair) dengan ikhlas untuk mencari wajah Allah, di balik itu dia juga mengharapkan agar Allah memberikan balasan di dunia dengan amalan-amalan, seperti orang yang bersedekah tujuannya agar Allah menjaga hartanya. Maka jenis ini termasuk ketegori haram.
  • Beramal sholeh (khair) karena riya dan sum’ah kepada manusia, maka ini adalah syirik kepada Allah.
  • Beramal sholeh (khair) semata-mata untuk mendapatkan materi dari manusia, contohnya orang yang menunaikan ibadah haji agar memperoleh harta dari para jama’ah haji, bukan karena Allah; atau orang yang agamais dan sholih agar dapat jabatan dalam agama, bukan karena Allah. Maka jenis ini termasuk syirik karena bukan untuk mencari wajah Allah. (Al-Jadid syarah Kitab Tauhid hal. 328-329)

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعِسَ عَبْدُ الدّيِْنَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الخَمِيْصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيْكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah, celakalah hamba khamilah, jika diberi dia senang tetapi jika tidak diberi maka ia marah, celakalah dia dan merugilah. Jika tertusuk duri semoga tidak seorang pun yang mau mencabutnya.” [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih -nya (2730)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

“Sesungguhnya orang yang pertama akan dibereskan urusannya di Hari Kiamat: Orang yang mati (dianggap) syahid. Kemudian ia dihadapkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman: “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab: “Aku telah berperang karena-Mu sehingga aku mati syahid”. Dia berfirman: “Engkau dusta! Akan tetapi engkau (sebenarnya) berperang agar dikatakan: ’Pemberani’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di ats wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka. Orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan membaca (baca: mempelajari) Al-Qur’an. Lalu iapun di datangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman: “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab: “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al-Qur’an karena Engkau”. Dia berfirman: “Engkau dusta! Akan tetapi engkau menuntut ilmu, dan mengajarkannya agar digelari: ‘ Ulama ’. Engkau membaca Al-Qur’an pun agar disebut: ‘ Qori’ ’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di atas wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka. Orang yang Allah luaskan jalan rezeki baginya dan diberikan seluruh jenis harta. Lalu iapun di datangkan seraya diperkenalkan (diingatkan) tentang nikmat-nikmat-Nya (yang dulu diberikan kepadanya ketika di dunia,pen.), maka iapun mengenalnya. Dia (Allah) berfirman: “Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu? Orang itu menjawab: “Aku tidaklah meninggalkan suatu jalanpun yang Engkau suka untuk disumbang, kecuali aku berinfaq (menyumbang) di dalamnya karena Engkau. Dia berfirman: “Engkau dusta! Akan tetapi engkau lakukan semua itu agar disebut: ‘ Dermawan ’, dan engkau telah digelari demikian”. Kemudian ia diperintahkan untuk diseret, maka iapun diseret di atas wajahnya sehingga ia ditelungkupkan ke dalam neraka”. [HR. Muslim dalam Ash-Shohih (4900), dan An-Nasa’iy dalam As-Sunan (3137)]

Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata dalam menjelaskan makna hadits ini, “Sabda beliau -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- tentang seorang pejuang, ulama, dan dermawan, disiksanya mereka karena melakukan hal itu bukan karena Allah, dan dimasukkannya mereka ke dalam neraka merupakan dalil yang menunjukkan tentang kerasnya pengharaman riya’, kerasnya hukuman baginya, dan tentang dorongan untuk selalu ikhlas dalam setiap amal, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Mereka tidaklah diperintahkan, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan (memurnikan) ibadah kepada-Nya”. (QS. Al-Bayyinah:5)

Dalam hadits ini, terdapat keterangan bahwa keumuman yang ada dalam keutamaan jihad, itu hanyalah bagi orang menginginkan (pahala) Allah -Ta’ala-, sedang ia ikhlas.Demikian pula, pujian atas diri para ulama, dan orang-orang yang berinfaq dalam berbagai macam kebaikan, semuanya diarahkan bagi orang yang melakukan hal itu karena Allah -Ta’ala- sedang ia ikhlas”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibnil Hajjaj (13/52-53)]

Inilah keadaan orang yang bila tertimpa keburukan, dia tidak dapat lolos darinya dan tidak berhasil, karena dia telah celaka dan tersungkur. Maka, dia tidak dapat meraih apa yang diharapkan dan tidak dapat meloloskan diri dari sesuatu yang dibenci. Ini adalah keadaan orang menjadi hamba harta. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyebutkan sifa-sifat orang yang beramal karena dunia yaitu jika diberi dia senang, namun jika tidak diberi, dia marah.

Allah -Ta’ala- berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah”. (QS. At- Taubah:58)

Ridha mereka ditujukan untuk selain Allah, dan kemarahan mereka bukan karena Allah pula. Beginilah keadaan orang yang menggantungkan dirinya kepada hawa nafsunya. Jika memperoleh sesuatu yang ia inginkan, dia girang. Namun jika tidak dapat memperolehnya, maka dia marah. Dia memperturutkan hawa nafsunya dan menjadi budaknya. [Lihat Fathul Majid].

Allah -Ta’ala- berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan. Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal)

Dalam masalah ini, Syaikh Al-Utsaimin membedakan antara riya’ dan keinginan mendapat dunia. Riya’ adalah seseorang yang beribadah karena ingin dipuji; agar dikatakan sebagai abid (ahli ibadah) dan ia tidak menginginkan materi. Adapun keinginan terhadap dunia, yang dimaksudkan dalam masalah ini, seseorang beribadah bukan untuk dipuji atau untuk dilihat, bahkan sebenarnya dia ikhlas. Akan tetapi, dia ingin mendapatkan -di balik amal sholehnya- sesuatu dari dunia berupa harta, pangkat, kesehatan untuk dirinya, dan keluarga, maupun anak-anaknya dan yang sejeninsnya. Jadi dengan amal ibadahnya ia inginkan manfaat dunia dan tidak menginginkan pahala akhirat.

Beliau memberikan beberapa contoh seorang menginginkan dunia dengan amal ibadahnya, misalnya: menjadi tukang adzan untuk mencari uang, atau berangkat haji untuk memperoleh harta dari jama’ah. Belajar agama di univsersitas mencari ijazah agar martabatnya naik, beribadah kepada Allah untuk mencegah gangguan atau mengobati penyakit, atau agar disukai orang lain atau maksud dan tujuan yang lain. [Lihat Al-Qaulil Mufid ala Kitab At-Tauhid (2/136)]

Apa yang beliau sampaikan berupa adanya perbedaan antara beramal karena ingin mendapatkan dunia, dan antara riya’, ini tidaklah bertentangan dengan pernyataan Syaikh Al-Qor’awiy, karena terkadang seseorang riya’, bukan karena sekedar mau mendapatkan pujian manusia, akan tetapi di balik pujian itu ada sesuatu yang ia inginkan berupa maslahat duniawi.

Sebagian manusia, tatkala berbicara tentang faedah-faedah ibadah, justru menitik- beratkan pada faedah duniawi, misalnya: sholat adalah olah raga yang berfaedah untuk menguatkan otot-otot, puasa untuk mengurangi lemak dan mengatur pola makan. Seharusnya kita tidak menjadikan faedah dunia sebagai perkara pokok., karena Allah tidak menyebutkan hal itu dalam kitab-Nya. Akan tetapi Allah menyebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar; puasa dapat meningkatkan ketakwaan. Faedah ukhrawi (berupa pahala) dalam ibadah, inilah yang menjadi pokok. Adapun faedah duniawi yang kedua. Maksudnya, seorang dalam beribadah hanya semata-mata mencari pahala di sisi Allah, ia tak peduli apakah ia mendapatkan faedah duniawi atau tidak.

Akan tetapi, ketika kita berbicara di hadapan manusia, maka kita arahkan atau sampaikan faedah ukhrawi-nya saja, kecuali jika dibutuhkan, barulah disampaikan faedah ukhrawi dan duniawi. Setiap tempat ada pembicaraan khusus. [Lihat Al-Qaul Al-Mufid ala Kitab At-Tauhid (2/138)]

Ringkasnya, gemerlap dunia telah menyilaukan pandangan banyak orang. Mestinya kita mawas diri agar tidak tejebak dalam tipuan dunia. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperumpamakan tentang hinanya dunia dengan bangkai seekor anak kambing yang cacat:

أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنِّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوْا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوْا :وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ :فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?. Para sahabat berkata, “kami tidak senang, apa yang bisa diperbuat dengannya?”. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Apakah kamu senang jika dihadiahkan untukmu?” Mereka berkata, “Demi Allah, andaikan anak kambing itu hidup, dia memiliki aib, karena kupingnya hilang, apatah lagi kalau sudah mati”. Maka beliau bersabda,”Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi Allah dibandingkan anak kambing ini bagi kalian”. [HR. Muslim (2957)]

Cukuplah bagi kita perumpamaan yang disampaikan Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa orang yang selamat dari fitnah dunia ini, ialah orang yang mengambil seperlunya tidak memperturutkan hawa nafsunya. Ibarat binatang ternak yang memakan rumput seperlunya, kemudian mengambil lagi setelah yang pertama dikeluarkan. [Lihat Shohih Al-Bukhoriy (6427), dan Shohih Muslim (1052)]. Seorang mengambil sesuatu yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, dan merasa cukup dengannya. (Bacaan: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 15 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas,Pesantren Tanwirus Sunnah, Gowa – Sulawesi Selatan, Sumber Artikel: http://almakassari.com)

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: