//
you're reading...
Uncategorized

Lalai di Dalam Hidup

Al-Faqiir Ilaa Rabbih : Musthafa Umar
Allah berfirman :
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar
(ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka
itulah orang-orang yang lalai. [Q.S. Al-A’raf : 179].
Tafsir Ayat :
Ayat ini menerangkan bahwa banyak dari kalangan jin dan manusia akan dimasukkan ke
dalam neraka Jahannam. Mereka ini sangat tercela, karena mensia-siakan hati, mata dan
telinga yang dimiliki ketika hidup di dunia. Sebenarnya semua bekal itu menjadikan mereka
untuk memilih hidayah (petunjuk), namun mereka tidak menggunakannya dengan baik dan
bijak, bahkan ada di antara mereka yang tidak menggunakannya sama sekali ; mereka hanyut
bersama hawa nafsu yang tak berkesudahan, tersesat dibawa oleh pesona dunia yang
menyilaukan, serta tenggelam dalam kemungkaran yang gemerlapan. Mereka ini sudah tidak
lagi memiliki mata, hati dan telinga yang mendatangkan kebaikan bagi mereka. Mereka ini
adalah orang-orang yang lalai di dalam hidup.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia sebenarnya telah diberikan bekal yang
cukup untuk memilih dan memelihara hidayah. Bekal itu adalah hati, mata dan telinga. Bekal itu
telah diberikan sejak manusia mulai hidup di dunia ini. Allah berfirman :
Artinya : ”Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia (Allah) memberikan kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur”. [Q.S. An-Nahl : 78]
Hati, mata dan telinga adalah bekal yang sangat berharga yang diberikan kepada manusia.
Dengan bekal itu maka manusia dapat menunaikan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah di
permukaan bumi. Sesungguhnya tujuan penciptaan manusia adalah untuk memperhambakan
diri (beribadah) kepada Allah, Allah berfirman :
Artinya : ”Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku”. [Q.S. Az-Zaariyaat : 56]. Menyembah Allah atau beribadah kepada Allah
maknanya tunduk dan patuh kepada Allah. Ketundukan dan kepatuhan tidak boleh diberikan
kepada selain Allah, termasuk kepada hawa nafsu. Siapa yang melakukannya berarti telah
menyimpang dari tujuan penciptaannya.
Jadi sebagai kesimpulannya adalah bahwa hati, mata dan telinga adalah bekal yang
memastikan seseorang dapat senantiasa beribadah kepada Allah. Semua itu adalah bekal yang
menyampaikan ke tujuan. Perbedaan antara hati, mata dan telinga adalah ; hati sebagai alat
untuk memahami sesuatu yang mungkin diperoleh melalui pandangan mata, atau pendengaran
telinga, atau penciuman hidung ataupun dari panca indera yang lainnya. Misalnya, seseorang
melihat ada awan hitam memenuhi angkasa atau telinga mendengar bunyi ribut dan desir angin bertiup kencang, maka iapun akan memahami bahwa sekejap lagi akan turun hujan.
Berarti apabila seseorang menggunakan hati, mata dan telinga dengan bijak maka ia akan
mempersiapkan diri dengan menyediakan payung sebelum hujan turun. Mereka ini adalah
orang-orang yang memanfaatkan hati, mata dan telinga sehingga sampai ke tujuan dengan
selamat.
Namun adapula yang lalai ; sungguh mata telah melihat awan berarak, telinga pula
mendengar gemuruh bergegar, hati pun telah mengetahui hujan akan segera turun, tetapi ia
masih juga sibuk menatap mobil-mobil yang dipajang untuk dijual, mengusap-usap dan
memperhatikannya, terpesona dengan berbagai warna, bentuk dan ragamnya. Semua itu telah
melalaikannya dari hujan yang akan turun, padahal ia tahu bahwa ia tidak akan dapat
membawa sebuah mobil pun pada hari itu. Semestinya ia tidak lalai dari kenyataan yang akan
ia jalani. Semestinya ia mengetahui bahawa suatu kebenaran yang pasti tidak boleh ditutupi
oleh kobaran hawa nafsu yang menipu.
Orang yang seperti ini memiliki hati tetapi tidak memahami dengannya, ia memiliki mata
tetapi tidak melihat dengannya, memiliki telinga tetapi tidak mendengar dengannya. Sepatutnya
semua itu bisa menjadikan dirinya selamat dari hujan. Tetapi sayang, ia tidak mengambil
manfaat dari semua anggota tubuh yang dibekalkan oleh Allah kepadanya. Sesungguhnya
semua itu bukan sekadar untuk dimiliki saja, tetapi untuk diambil faedahnya. Orang yang seperti
inilah yang disebut dengan orang yang lalai.
Jadi, lalai adalah keadaan dimana seseorang itu tidak lagi mengingat perkara pertama yang
menjadi tumpuan dan tujuan hidupnya. Seperti yang telah kita terangkan tadi ; apabila ibadah
adalah tumpuan dan tujuan hidup kita sebagai manusia maka apabila sekarang ini kita sibuk
menatap dunia berarti kita telah lalai di dalam hidup.
Kita sebut contoh yang mudah dalam kehidupan sehari-hari ; apabila azan di tengah hari
telah dikumandangkan berarti waktu sholat Zuhur telah masuk. Semestinya yang menjadi
tumpuan dan tujuan kita ketika itu adalah bagaimana dapat menunaikan sholat Zuhur sesegera
mungkin. Namun kita saksikan bahwa ramai di antara kita yang disibukkan oleh perdagangan di
pasar, pekerjaan di kantor, tontonan di rumah, perbincangan dengan kawan, dan lain
sebagainya. Kita lalai karena kita tidak menyadari bahwa waktu sholat telah tiba, bahkan ada
pula di antara kita yang sangat lalai dimana ia tidak menyadari bahwa waktu sholat telah habis.
Astaghfirullah Al-‘Adzim!
Berarti apabila disebut kata ‘lalai’ maka di sana ada perkara pertama yang ditutupi dan ada
perkara kedua yang menutupi ; yang ditutupi adalah kebenaran dan yang menutupi adalah
kebatilan, atau yang ditutupi adalah Allah yang patut disembah dan yang menutupi adalah
hawa nafsu yang sepatutnya diabaikan, atau yang ditutupi adalah Allah Yang Maha Berkuasa
dan yang menutupi adalah hawa nafsu yang sombong dan serakah, atau yang ditutupi adalah
ketaatan dan yang menutupi adalah kemaksiatan, atau yang ditutupi adalah akhirat dan yang
menutupi adalah dunia.
Dan jika dilihat dari sisi nama-namanya maka banyak yang bisa disebut sebagai sesuatu yang biasa melalaikan kita ; umpamanya badan, keluarga, kawan, perhiasan, pakaian, uang,
mobil, rumah, kebun, hewan peliharaan, tontonan, hiburan, permainan, makanan dan apa saja
yang disukai oleh hawa nafsu.
Semua itu akan melalaikan kita apabila kita tidak memahami hakekat dan kedudukannya di
dalam hidup. Semua itu bukanlah tujuan di dalam hidup. Ia hanyalah kehidupan dunia yang
sementara. Tujuan hidup kita adalah akhirat yang abadi. Allah menyebutkan kelompok yang
lalai ini melalui Firman-Nya :
Artinya : “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka
tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. [Q.S. Ar-Rum : 7]
Allah menyeru kita untuk tidak mengikuti jejak mereka yang lalai ini, Allah berfirman :
Artinya : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya
di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah
kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti
hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. [Q.S. Al-Kahfi : 28]
Jadi, orang-orang yang lalai dari beribadah kepada Allah adalah disebabkan karena
mereka terpaku kepada kehidupan di dunia ini saja dalam menuruti kehendak hawa nafsu
yang menipu ; seperti kekuasaan yang tinggi, harta benda yang yang melimpah, pengikut yang
banyak, gelar yang bertingkat-tingkat dan lain sebagainya. Mereka disibukkan dengan
perkara-perkara dunia tersebut. Mereka tidak pernah mengharapkan perjumpaan dengan Allah
padahal perkara itu adalah kepastian yang pasti akan berlaku, Allah berfirman :
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan)
pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram
dengan kehidupan itu dan adalah juga mereka orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami”,
[Q.S. Yunus : 7]
Mereka ini dimisalkan oleh Allah bagaikan binatang ternak seperti yang terdapat di akhir ayat
179 Surah Al-A’raf di atas. Perumpamaan yang sepatutnya menyadarkan kita ; lihatlah
bagaimana binatang ternak itu tidak memahami apa-apa melainkan pergi ke hamparan rumput
kemudian makan sekenyang-kenyangnya, mengetahui kehadiran musuh kemudian lari
sekencang-kencangnya, lalu balik ke kandang kemudian tidur senyenyak-nyenyaknya. Bahkan
mereka yang lalai adalah lebih buruk lagi daripada binatang ternak itu, karena mereka memiliki
hati untuk memahami tetapi tidak dapat menggunakannya dengan baik.
Sebagai penutup, supaya kita terhindar dari kedudukan yang sangat hina ini maka sepatutnya
kita dengan segera menjawab seruan Allah seperti yang terdapat dalam surah Al-A’raf ayat 205
dan 206 :
Artinya : “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai(205) Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi
Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan
hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.(206)”.
Ayat ini menerangkan bahwa hendaknya kita senantiasa menyebut dan mengingat Allah dalam
zikir-zikir yang kita usahakan; yaitu zikir yang penuh dengan kerendahan hati dan dengan rasa
takut yang mendalam, zikir dengan suara perlahan yang sangat meninggalkan pengaruh di
jiwa, zikir yang berkesinambungan baik di pagi hari maupun petang. Insya Allah kita akan
dijauhkan dari kelalaian hidup di dunia ini.
Sebaiknyalah kita mencontoh malaikat yang tidak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah ;
mereka tidak pernah merasa enggan dalam kepatuhan, dan sentiasa memuji Allah dan
bersujud mengagongkan Sang Pencipta. Wallahu A’lam.***

tafaqquh.com/index.php?view=article&catid=35%3Austadz-menjawab-&id=50%3A-lalai-di-dalam-hidup&format=pdf&option=com_content

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: