//
you're reading...
Uncategorized

Cinta Sampai Mati

cinta-rasul

 

Matahari sudah meninggi. Di dalam rumah yang pintunya tertutup, punggung lelaki pilihan itu rebah di atas pelepah kurma. Tubuhnya agak lemah. Butir keringat turun dari dahi. Tugas menyampaikan risalah tunai sudah. Dan ia mengerti, tanda-tanda untuk pulang ke sisi Rabbi kini dekat sekali.

Maka, tatkala Izrail datang, ia bertanya perihal Jibril, “Kenapa Jibril tidak menyertaimu?” O, Bukan. Ia bertanya begitu rupa bukan karena tidak mahfum soalan pencabutan nyawa yang dimandatkan Tuhan pada Izrail. Bukan pula bertanya sebab berkehendak Jibril menemaninya melepas napas. Bukan. Bukan begitu. Tapi karena ada sesuatu yang ingin diketahuinya. Sebuah jawaban yang kiranya akan diungkapkan Jibril padanya.

Maka, tatkala Jibril turun, ia mulai bertanya, “Jibril, apa hakku nanti di hadapan Allah?”

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat menanti ruhmu. Ruang-ruang syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” jawab Jibril.

Tapi, penjelasan Jibril belum membuatnya lega. Matanya masih diliput cemas berikut tanda tanya. Ia menggundahkan sesuatu, ihwal orang-orang setelahnya yang tulus ia cinta meski belum saling jumpa. Maka, ia pun bertanya, “Wahai Jibril, kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” Jibril meyakinkan.

Kelegaan menyeruak. Lelaki pilihan itu tahu benar, Jibril tidak sedang berdusta. Hatta, detik terus merambat. Sampailah saat bagi Izrail menjalankan perannya. Perlahan-lahan, ruh Rasul ditarik. Urat-urat lehernya menegang dan peluh membasuh serata tubuh.

“Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini…” Ia mendesah. Sementara Jibril memalingkan muka. Fatimah, sang putri yang turut menemani bersama Ali, hanya mampu memejamkan mata.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu, wahai Jibril?” tanya Rasul.

“Wahai Rasul Allah, siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal?” kata Jibril sambil terus berpaling wajah.

Sehela napas kemudian terdengar Rasulullah memekik sakit, “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun mendekatkan telinganya, “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar, tangis terdengar bersahutan. Sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, sementara Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii..” lirih dalam pola ungkap yang jelas, ia masih menyebut orang-orang kemudian, yang belum ia jumpa tapi sudah ia cinta.

“Ummatkuu, Ummatkuu, Ummatkuu..” Sekalipun tengah bertarung dengan rasa sakit melepas napas penghabisan, ia masih terus mengeja.

Adakah cinta dari manusia yang lebih dahsyat selain ini? Padahal ia tidak tahu, berapa banyak dari golongan kemudian yang berkenan membalas cintanya. Tidak jua ia menyoal akan sakitnya bertahan dalam cinta yang mungkin saja bertepuk sebelah tangan.

Tapi begitulah riwayat cinta dari sang nabi. Benar-benar cinta sampai mati. Demi cinta ia datang, atas nama cinta ia pergi. Meski nafas jelang penghabisan, masih diejanya “ummatii… Ummatii…” 

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: