//
you're reading...
Ilmu Shorof & Nahwu

Akar Sejarah Kelahiran Ilmu Nahu (2)

Oleh Dr. Yasmadi M

(Dosen IAIN Imam Bonjol Padang)

Beberapa contoh kasus lahn

Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa kasus lahn tidak saja terjadi pada periode Khalifah Rasyidin, di masa Rasul pun kejadian lahn pernah ada, sehingga Rasul berkomentar (أرشدوا أخاكم فقد ضل ). Ibn Qutaibah juga meriwayatkan bahwa suatu ketika seorang Arab badui mendengar muazin berkata (أشهد أن محمداً رسولَ الله) dengan menasbkan kata (رسولَ) yang seharusnya dibaca raf` karena khabr (أن). Lalu ia berkata, “celakalah ia.” Tetapi kemudian ketika orang tersebut mengunjungi sebuah pasar alangkah terkejutnya ia melihat banyaknya terjadi lahn dalam pembicaraan orang-orang yang ada di sana. Al-Jahiz juga mengemukakan seseorang yang mengucapkan (هذه عصاتي) seharusnya ia baca (هذه عصاي). Kemudian di Irak juga ia dengar orang mengucapkan (حيِْ على الصلاة) dengan kasrah harkat ya’ (ياء) yang seharusnya dibaca fath.

Ada ungkapan Umar yang cukup “ekstrim” berkaitan dengan lahn dalam membaca Qs. at-Tawbah (9):3. Ia mengatakan bahwa sebelum membaca al-Qur`an sebaiknya seseorang itu mengerti dengan bahasa Arab. Umar juga mengatakan : (تعلموا العربية فإنها تثبت العقل وتزيد في المروءة), pelajarilah bahasa Arab (nahu) maka akan memperkuat pemahaman dan menambah kewibawaan dan harga diri. Latar belakang munculnya statemen Umar ini karena ada seseorang yang membaca Qs. at-Tawbah (9):3 dengan menkasrahkan kata (رسوِلهِ) pada ayat tersebut:

(وَأَذَانٌ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأَكْبَرِ أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُو ُلِهُ)

Jika dibaca dengan menkasrahkan kata (رسوِلهِ) maka yang dipahami adalah Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya, padahal yang sebenarnya bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

Dari satu sisi, kiranya statemen Umar itu tidaklah berlebihan ketika dipahami bahwa Al-Qur’an adalah merupakan pedoman utama dalam agama Islam. Di dalamnya termuat ketentutan-ketentuan yang wajib dipedomani dalam berbagai aspek kehidupan, baik tentang persolaan ibadah, muamalah, akhlak, hubungan individu, sosial atau bermasyarakat. Maka untuk memahami semua ketentuan dasar tersebut perlu pemahaman yang utuh terhadap teks al-Qur’an yang kesemuanya memiliki keterkaitan erat kajian-kajian kebahasaan, seperti makhraj-makhraj hurufnya, tanda-tanda i`rabnya, huruf-huruf dari kata-katanya, susunan kata-katanya, fungsi kata dalam susunan kalimatnya, dan lain-lain.

Contoh kasus lahn yang lain, Al-Anbari menceritakan bahwa faktor yang mendorong Ali bin Abi Thalib tergerak untuk merumuskan ilmu nahu ini adalah ketika ia mendengar seorang membaca Qs. al-Hâqah (69):37: yang seharusnya dibaca (لاَ يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِؤُونَ) tetapi oleh orang tersebut ayat itu dibaca (لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئين َ).

Ada sebuah riwayat Abu Aswad Ad-Duali yang menceritakan bahwa suatu ketika anak perempuannya berkata kepadanya, (يا أبت ما أشدُ الحر). Lalu Abu Aswad malah juga bertanya kepada anaknya (أي زمان الحر أشد؟). Mendengar hal tersebut anaknya kemudian berkata bahwa dia bermaksud hanya menyampaikan suatu berita (dengan adat ta`ajjub), bukan tujuan untuk bertanya. Namun terjadi kesalahan pengucapan (ما أشد) yang seharusnya difathkan harkat huruf dalnya.

Kasus lahn menjadi persoalan besar bagi ulama yang mendorong mereka untuk berbenah dan segera merumuskan kaidah-kaidah nahu. Karena itu pula kemudian ketika muncul perbedaan pendapat ulama tentang apakah pembahasan pertama atau yang paling awal dalam bangunan ilmu nahu, sebagian kalangan berpendapat adalah bahasan tentang masalah-masalah yang telah diiventarisasi dan masuk dalam kategori lahn. Di samping itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pembahasan pertama dalam ilmu nahu adalah tentang apa yang banyak muncul dalam komunikasi lisan, seperti fa`il, maf`ul bih, mubtada’, khabr, dan lain-lain.

Perbedaan Qiraat Qur’an

Di samping persoalan lahn, perbedaan qiraat Qur’an juga menjadi faktor pendorong bagi para ulama dalam membuat suatu kaidah nahu yang baku. Hanya saja secara kuantitas kasus-kasus perbedaan qiraat Qur’an banyak muncul dan terjadi di kalangan ulama Kufah yang memang lebih dulu disibukkan dengan qiraat Qur’an jika dibandingkan dengan ulama-ulama Basrah. Perbedaan qiraat Qur’an tersebut secara kualitas kemudian menginpirasi ulama-ulama Kufah untuk menempatkannya sebagai dasar pertama (sumber simâ`) dalam penetapan kaidah-kaidah nahu. Dari perbedaan qiraat ini pulalah kemudian yang memicu terjadinya perbedaan-perbedaan kalangan Kufah dan Basrah dalam menetapkan sumber atau adillah an-nahwi untuk perumusan kaidah-kaidah nahu.

Munculnya qiraat-qiraat Qur’an juga menimbulkan persoalan baru di kalangan ulama yaitu bagaimanakah kedudukan qiraat Qur’an dan apakah qiraat-qiraat tersebut dapat dijadikan sebagai sumber dalam penetapan kaidah-kaidah nahu. Hamzah misalnya berpendapat boleh mengatafkan isim zahir kepada domir yang majrûr, seperti kata (َالأَرْحَامِ) dalam ayat (وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَام ِ). Mayoritas ulama Basrah berpendapat tidak boleh mengatafkan isim zahir pada domir, tetapi Hamzah membolehkan padahal pada ayat tersebut tidak terjadi pengulangan huruf jarr. Ibn `Amr juga berpendapat bahwa boleh memisahkan kata mudaf dan mudaf ilaihnya dengan menempatkan maful bih di antara keduannya, sehingga Qs. al-An`am (6):137 (وَكَذَلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلاَدِهِمْ شُرَكَآؤُهُمْ) menurut qiraat Ibn `Amr ayat tersebut dapat dibaca dengan (قَتـْلُ أَوْلاَدَهُمْ شُرَكَآؤِهِمْ)

Di antara ayat dan qiraat
Qur’an yang juga menjadi perdebatan, antara lain, misalnya kasus (اسْتَحْوَذ) yang seharusnya huruf ilat tidak
berharkat. Paraاسْتَحْوَذ).
Begitu juga kasus (َيَأْبَى, yaitu fath harkat
huruf ba’ (باء) sebagai `ain
fi`ilnya sedangkan huruf tersebut tidak termasuk halq. Menurut Al-Farrâ’ (w.
207 H), tidak pernah ditemukan sebelumnya dalam tradisi orang Arab (فعَلَ يفعَلَ) padanan kata dengan harkat fath pada
kedua `ain fi`ilnya, kecuali huruf kedua atau ketiga dari kata tersebut terdiri
dari huruf halq. ulama sepakat bahwa boleh
berhujjah dengan semua ayat-ayat Qur’an, baik dari kata-kata yang mutawatir, ahad,
ataupun syâzz, tetapi tidak bisa mengkiaskan pada kata-kata yang dipandang
sebagai syâzz seperti pada kata (

Al-Kisâ’i (w. 189 H) dan beberapa imam qiraat lainnya juga berhujjah bahwa boleh menempatkan lâm amr (لام الأمر) pada kata mudhari` yang diawali dengan tâ’ khithab (المضارع المبدوء بتاء الخطاب), seperti kata (فَلْتَفْرَحُواْ) yang terdapat dalam Qs. Yunus (10):58 sebagaimana juga boleh menempatkan lâm amr (لام الأمر) pada kata mudhari` yang diawali dengan nun mudhara`ah, seperti pada kata (وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ).

Di samping itu, munculnya ahli-ahli qiraat, seperti `Ashim (w. 127 H), Hamzah (w. 154 H), dan Ibn `Amr (w. 156 H), yang oleh mayoritas ulama diklaim mengandung kelemahan karena dianggap banyak memunculkan qiraat syazz -bahkan menurut As-Suyuti telah masuk dalam kasus lahn-. Namun perbedaan qiraat tersebut kemudian disikapi secara berbeda oleh ulama-ulama nahu. Mayoritas ulama Kufah menerima dan mengambil qiraat-qiraat itu secara umum. Mereka berhujjah dengan qiraat-qiraat tersebut terkait dengan kasus-kasus bahasa Arab jika ditemukan perbandingan atau ada unsur kesamaannya dalam khazanah bahasa Arab. Jika tidak ditemukan, mereka tolak. Terkait dengan qiraat Ibn `Amr misalnya tentang Qs. Al-An`am (6):137 (قَتْلُ أَوْلاَدَهُمْ شُرَكَآؤِهِمْ), mereka menerimanya sebab dalam tradisi dan khazanah bahasa Arab juga ditemukan kasus yang serupa dengan itu. Lain halnya bagi kelompok Basrah, menolak qiraat tersebut karena menurut mereka mudaf dan mudaf ilaih satu posisi (بمنزلة شيء واحد) dan antara mudaf dan mudaf ilaihnya hanya dapat dipisahkan dengan zharf dan huruf jarr.

Kedua, faktor non-teologis, ghair ad-dîniy

Faktor non agama dapat dirumuskan dalam dua hal. Pertama, nasionalisme Arab (قومي عربي) artinya bahwa orang-orang Arab amat menghargai bahasa mereka (bahasa Arab), mereka sangat memuliakan bahasa tersebut sehingga mereka sangat khawatir bahasa Arab akan rusak dan mengalami distorsi ketika bercampur dengan bahasa asing. Inilah yang mendorong para ulama untuk menyusun gramatika Arab agar bahasa Arab itu tidak hilang, atau lebur dengan bahasa asing. Di sisi lain, melalui bahasa agaknya orang-orang Arab ingin menampakkan identitas mereka selaku bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi. Dari sini telah mulai lahir cikal bakal nasionalisme Arab yang pada abad-abad berikutnya telah menjadi wacana yang menonjol bagi kalangan pemikir-pemikir moderat Islam Timur Tengah. Kedua, aspek sosiologis (اجتماعي) artinya bahwa bangsa-bangsa yang telah menjadi bangsa Arab memiliki kebutuhan yang sangat tinggi terhadap bahasa Arab itu sendiri dengan semua gramatika dan tata aturannya, sehingga mereka dapat berbicara secara baik dan benar sehingga mereka merasa diterima dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan bangsa Arab.

Kedua faktor utama di atas tadi saling berkaitan, artinya bahwa orang Arab butuh merumuskan kaidah-kaidah bahasa Arab untuk melanggengkan bahasa mereka sehingga terbebas dari pengaruh bahasa Asing. Dan melalui bahasa Arab isu-isu nasionalisme Arab terangkat dan menempatkan posisi yang layak. Di sisi lain, orang-orang non Arab yang telah menjadi bangsa “Arab” sangat butuh dengan kaidah-kaidah bahasa Arab agar mereka dapat menggunakan bahasa Arab secara baik dan benar sehingga keberadaan mereka diakui di sana. Maka upaya perumusan nahu ketika itu menjadi keharusan bersama yang penting untuk diwujudkan secepatnya.

Sedikit demi sedikit dimulailah perumusan kaidah-kaidah nahu yang diawali dengan kasus-kasus lahn yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang dikumpulkan dan diiventarisasikan oleh Abu al-Aswad ad-Dual³. Atau dapat dikatakan, secara tidak langsung proses pengajaran dan pendidikan bahasa Arab secara informal telah berlangsung sejak itu. Perkembangan baru terpenting yang terjadi dalam bidang nahu ini berawal di kota Basrah disebabkan oleh karakter masyarakatnya yang cendrung responsif dengan tradisi keilmuan dan mereka siap dengan dialektika wacana peradaban, sebab mereka sebelumnya telah bersinggungan dan bersentuhan dengan peradaban Yunani yang pada masa itu dianggap sebagai peradaban yang modern.

DAFTAR BACAAN

`Abd al-Karîm Muhammad al-As`ad, al-Wasit Fi Tarikh an-Nahw al-`Arabi, Riyad: Dar asy-Syawwaf, 1992

Ahmad Toha Hasânîn Sulthân, al-Mukhtasar fi Ushûl an-Nahwi, Kairo: Dar al-Busyra, 2005

Al-Anbari, al-Insâf fi Masâ’il al-Khilâf bain an-Nahwyin: al-Bashriyin wa al-Kufiyin, jld. 1-2, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Al-Jurjani, Kitab at-Ta`rifat, Beirut: Dar al-Kitab al-`Arabi, 1992

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jld 1, Jakarta: UI-Press, 1985

Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islâm, Juz I, Kairo: Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyyah, 1979

Ibn Jinni, Al-Khasâs, Muhammad `Ali al-Najjar, (Pent.), Kairo; Dâr al-Kutb al-Mi¡riyah, 1952/1371

Ibn Manzhur, Lisan al-`Arab, jl. 8, Kairo: Dar al-Hadis, 2003

Ibrahim Mustafa, Ihya’ an-Nahwi, Kairo: Dar al-Kitab al-Islamiy, 1992

Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, Bag. Kesatu & Dua, terj. Gufran A. Mas`adi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999

Jalal ad-Din Abd ar-Rahman as-Suyuti, Kitâb al-Iqtirâh Fî Ushûl al-Nahw, T.tp.: Jarûs Burs, 1988

Muhammad at-Tantawi, Nasy’ah an-Nahw, Kairo: Dar al-Manar, 1991/1412

Muhammad Husain Âli Yasin, ad-Dirasah al-Lugawiyah `Inda al-`Arab Ila Nihayah al-Qarn al-Tsalits, Beirut: Dar Maktabah al-Hayah, 1980

Nurcholish Madjid, “Sejarah Awal Penyusunan dan Pembakuan Hukum Islam” dalam Budhy Munawar Rahman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Yayasan Paramadina, 1995

Sa`id Al-Afgani, Fi Usul an-Nahw, Beirut: al-Maktabah al-Islami, 1987

Syawqi Dhaif, al-Madâris an-Nahwiyah, Kairo: Dar al-Ma`arif, 1968

Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terj. Adang Affandi judul asli, Islam: Its Concepts & History, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994

Tamam Hasan, al-Ushul, Dirasat Estimologiyat li al-Fikr al-Lughawi `inda al-Arab, Mesir: Al-Hai’ah Al-Misriyah al-`Amah li al-Kitab, 1979

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: