//
you're reading...
Renungan

Rezeki Bukan Hanya Uang

Di dalam kehidupan sering kita melihat betapa banyak orang di tengah-tengah kekayaannya masih merasa kurang, di tengah-tengah tengah harta yang melimpah ruah, masih saja mengeruk harta negara dengan korupsi. Betapa banyak manusia yang sudah punya harta berlimpah, masih saja tak puas, masih saja merasa kurang, masih saja terus mengejar harta, harta dan harta, sampai-sampai menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Dan kita temukan orang yang bergelimang harta dan populeritas, ada yang mati ditengah kekayaannya, bunuh diri di tengah kepopulerannya, mengapa ? Karena tak bersyukur atas rezeki yang telah diterimanya, bukankah kekayaan dan kepopuleran itu juga rezeki ? Ayo, siapa berani bilang kepopuleran itu bukan rezeki ? Bukankah banyak sekali orang yang ingin populer, ingin terkenal dan ingin dijadikan idola ?

 

Buat apa harta banyak-banyak, jika harta itu membuatmu menjadi budak yang hina, menjadi gelisah, khawatir, takut kehilangan dll. Harta yang haram adalah harta yang membawamu ke penjara dan ke neraka. Harta yang bermanfaat adalah yang dapat membawamu mencapai ridho Allah SWT dan ke syurga. Apa yang sudah kamu peroleh, apa yang kamu sedang peroleh, apa yang akan kamu peroleh dan apa yang tidak kamu peroleh, semua itu adalah karunia Allah SWT.

 

Apa yang diberikan dan apa yang tidak diberikan Allah SWT adalah baik bagimu menurut Allah SWT untukmu. Jika karunia Allah SWT semua diberikan padamu, niscaya kamu tak akan sanggup menerimanya, makanya Allah memberikan karuniaNya padamu sesuai dengan kemampuanmu, jika tidak, karunia tersebut bisa menjadi musibah bagimu, bukan berkah. Coba saja perhatikan di sekeliling kita, betapa banyak orang yang kaya raya, justru tak bahagia, karena harta yang didapati bisa saja bukan karena harta yang halal, korupsi, misalnya, sehingga ada ketakutan, kegelisahan, keresahan, takut di tangkap oleh KPK .

 

Sebenarnya rezeki sedikit, tapi disyukuri, lebih bermakna dan berkah, jika dibandingkan rezeki banyak, justru disia-siakan. Rezeki itu bukan banyak atau sedikitnya, tapi apakah bermanfaat atau tidak, berkah atau tidak dsb. Rezeki yang halal dapat menetramkan jiwa, sedangkan rezeki yang diperoleh dengan cara-cara haram, bukan hanya membuat jiwa menjadi gelisah, resah, tak tentram, juga penjara dunia dan di akherat azab sedang menanti.

 

Manusia seringkali berkeluh kesah terhadap sesuatu yang hilang darinya, tapi sering kali lupa bersyukur bila sesuatu itu mendatanginya. Dengan kata lain : rezeki yang diterima tidak disyukuri/tidak bersyukur kepada Allah, tapi jika rezeki itu hilang, seperti kebakaran, bencana alam, di curi, di rampok dll mereka berkeluh kesah, gelisah, resah, pusing, stress dsb. Repotnya lagi manusia mengukur rezeki Allah SWT dipersempit sedemikian rupa, sehingga yang namanya rezeki katanya uang, tak punya uang tak punya rezeki. Padahal rezekiNya sangat luas, tak terbatas pada uang saja, namun juga kesehatan, keimanan yang teguh, udara, air, matahari, dsb.

 

Rezeki, misalnya berupa rumah, betapapun besar dan indahnya, jika bukan milikmu buat apa ? Rumahmu betapapun besar dan indahnya, jika tidak kamu tempati, buat apa ? Apapun namanya, jika tidak bermanfaat langsung atau tidak langsung buat apa kamu miliki ? Barang itu bukan banyaknya, tapi apa manfaatnya ! Sedikit bermanfaat, lebih baik ketimbang banyak, tapi sia-sia. Dan ingat, rumahmu di dunia akan kamu tinggalkan dan itu rumah yang fana, rumahmu yang abadi di akherat. Bila kamu tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadamu, kamu termasuk kupur nikmat !

Nikmat dariNya begitu banyaknya, diantaranya kamu punya kebebasan, punya perasaan, punya hati, jantung, kulit, gigi, mulut, tangan, kaki, dubur, paru-paru, usus, bisa baca, bisa mimpi, bekerja, berkarya, merdeka, punya teman, saudara, sahabat dan lain sebagainya, benar benar tak terhitung banyaknya karunia Allah. Dan kalau mau di hitung juga kamu tak akan sanggup untuk menghitungnya. Allahu Akbar ! Maka bersyukurlah atas semua karunia yang telah Allah berikan kepadamu, bila kamu tidak mau bersyukur keterlaluan ! Nikmat Allah kamu gunakan, tapi yang memberi nikmat kamu lupakan.

 

Kalau kamu masih saja mengeluh, padahal rejeki, karunia, nimat Allah SWT yang telah diberikan kepadamu begitu banyaknya, hingga kamu sendiri tak mampu menghitung nikmat tersebut. Bila kamu masih saja mengeluh, berarti kamu manusia yang tak tahu diri. Kalau di kasih nikmat saja kamu masih mengeluh, jangan-jangan kalau nikmat tersebut ditarik kembali oleh Allah darimu , Allah akan kamu maki-maki, kau akan berteriak, Tuhan tidak adil ! Kalau itu terjadi, kamu benar-benar akan menjadi manusia kupur ! Ya Allah hamba berlindung kepada-Mu dari sipat kupur seperti itu.

 

Kalau setiap hari kamu mengeluh terus , yang lelah sebenarnya bukan orang lain, tapi dirimu sendiri. Semakin banyak kamu mengeluh semakin cepat letih jiwamu dan perasaanmu semakin gundah gulana, hal ini jelas akan merugikan dirimu sendiri. Bisa-bisa menjadi sakit, yang kalau di periksa dokter tidak ditemukan penyakitnya, karena punyakitnya bersumber bukan di fisik, tapi di jiwa yang tak ada syukur di dalamnya. Penyakit jenis ini malah sukar disembuhkan, kecuali oleh diri sendiri,dengan cara Qanaah, menerima apa yang ada, sambil terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sesudah itu tawaqal kepadaNya, menyerahkan hasil akhir pada keputusanNya.

 

Kalau kamu yang sudah punya harta benda, rumah, kendaraan saja merasa menderita atau tak merasa bahagia, gimana orang-orang yang sedang dilanda peperangan ? Dan perangnya di musim dingin lagi. Coba lihat mereka yang terkapar di Irak, Afganistan, Palestina dll. Coba kamu bayangkan para petugas pengeruk salju, di musim dingin di Moskow, berjam-jam mereka di luar mengeruk salju, dan pengeruknya seorang perempuan paro baya. Di tengah-tengah salju dan suhu udara yang sangat dingin, suhu minus bisa sampai 30 derajat C. Coba bayangkan, kamu yang berada di kamar atau di dalam rumah saja merasa kedinginan, nah mereka berjam-jam di luar rumah, sambil kerja, ditengah- tengah hujan salju mereka tetap bekerja.

 

Kadang-kadang di pagi-pagi buta mereka sudah mengeruk salju, sementara orang lain sedang terbui oleh mimpi-mimpi yang indah, nah lebih menderitakah kamu di banding mereka ? kalu kamu merasa lebih menderita, keterlaluan ! Coba lagi kamu lihat orang-orang yang dilanda kelaparan, karena kekeringan, makan saja susah, mencari sesuap dua suap nasi saja susahnya minta ampun, loh kamu itu seringkali bahkan kekenyangan, akibatnya badanmu semakin kegemukan, tidak seimbang antar tinggi badan dan berat badanmu ! Nah masihkah kamu merasa menderita ? Padahal karunia Allah SWT, begitu banyak telah kamu terima, hingga kamu tak mampu menghitungnya.

 

Kalau kamu merasa sendirian di Moskow atau di tempat rantauan lainnya di berbagai negara atau kota, jauh dari sanak keluarga di Tanah air Indonesia dan merasa tidak bahagia, coba kamu perhatikan dan kamu bayangkan orang-orang yang hidupnya di penjara, mereka bertahun-tahun hidup di penjara, bahkan ada yang sampai seumur hidup bahkan sampai mati di penjara ! Mereka yang hidup di penjara yang mereka hadapi hanya tembok-tembok yang membeku, dingin dan kehidupan yang sangat keras. Mereka tak bisa kemana-mana, tidur di tempat yang kotor, nyamuk, tumbila, tikus telah menjadi teman sehari-hari. Banyak para narapidana yang tak seharipun bisa bertemu dengan sanak keluarganya, tidak bisa bertemu anak dan istrinya. Masihkah kamu merasa lebih menderita atau tidak bahagia ? Jika jawabanya “ ya” keterlaluan, mengapa ? Loh kamu masih bisa kemana-mana, pergi kemana saja yang kamu suka, tidur masih di kasur yang empuk, tak bertumbila dan tak bernyamuk, hangat, bersih dsb Masih bisa makan yang enak-enak, bisa mencari hiburan, punya pakaian dll.

 

Kalau kamu masih mengeluh juga atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepadamu, keterlaluan ! Coba kamu lihat pengemis-pengemis di pinggir jalan raya di Moskow pada saat musim dingin yang menggigit, suhu di bawah titik beku, sambil menggigil badan mereka, mereka kedinginan, duduk di aspal yang dingin karena salju, menadahkan tangan, meminta-minta serubel dua rubel, sambil terus melawan dingin berjam-jam setiap hari. Bayangkan lebih menderitakah kamu di banding mereka ? Jika kamu masih masih menderita, keterlaluan ! Ingat, kamu bukan punya hanya serubel. Walau di Moskowpun tak kurang orang kayanya, orang yang begelimang harta. Atau kamu lihat di Indonesia, betapa banyak orang yang hidup masih di pinggir bantaran sungai, di kolong-kolong jembatan, di tempat pembuangan sampah terakhir dst, walau yang kayapun tidak sedikit.

 

Coba lihat saat kau sedang minum air putih, nikmat bukan ? Apa lagi minumnya saat sedang kehausan, karena airpun adalah nikmat Allah! Mengapa? Coba saja lihat dirumah sakit betapa banyak hanya untuk minum air biasa yang kelihatannya sangat wajar, sangat biasa untuk orang sehat, tapi bagi orang sakit butuh perjuangan keras hanya untuk bisa minum. Dan mungkin kamupun pernah mengalami susahnya minum air putih biasa, karena radang tenggorokan dan sakitpun menyerang, badan panas, batuk, pusing, dan tenggorokan seperti di bakar. Dan hanya untuk minum air putih biasa berubah seperti bara yang membakar. Itulah, bisa minum airpun adalah nikmat Allah SWT yang wajib kamu syukuri. Alhamdulillah!

 

Jadi, begitu banyak karunia yang telah diberikannya padamu, tapi sering kali kamu ingkari. Karena selalu melihat ke “atas” ke yang lebih kaya, lebih sejahtera, lebih makmur, karenanya kurang bersyukur. Cobalah sekali-kali lihat ke “bawah” ke yang lebih miskin, yang lebih sederhana, yang lebih menderita, insya Allah, kau akan menjadi manusia yang bahagia, manusia yang pandai bersyukur atas segala karuniaNya. Karenanya kau tak akan merasa kekurangan di tengah keterbatasan, tak merasa menderita ditengah kemiskinan, tak merasa susah ketika tak punya apa-apa, karena yakin masih punya harapan, masih punya rejeki berupa anggota tubuh yang masih sehat dan lengkap, dengan fungsinya masing-masing. Nah, mengapa kau berkata: ” tak punya apa-apa” ? Jadi, mengapa kau persempit rezeki Allah SWT hanya dengan Uang ? Rezeki Alllah SWT sangat luas, seluas langit dan bumi. Kita masih hidup saja, itu sudah rezeki Allah yang luar biasa. Ketika dapat membaca tulisan ini, itupun rezeki Allah. karena tanpa izinNya, kita tak akan mampu membaca satu katapun. Ayo, siapa yang masih berkata tak punya rezeki ?

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: