//
you're reading...
Uncategorized

JANGAN BERSEDIH MENGHADAPI DETIK-DETIK TERAKHIR KEHIDUPAN

Abu Raihan Al-Biruni (seorang penulis prolifik dan pemikir muslim), meninggal dunia pada tahun 440 hijrah. Selama 78 tahun hidupnya didedikasikan untuk menuntut ilmu dan dicurahkan untuk mengarang berbagai macam buku.

Selama hidupnya beliau membuka berbagai-bagai macam pintu pengetahuan dan menjelajahi segala permasalahan yang ada di dalamnya, baik masalah yang telah jelas duduk perkaranya mahupun yang belum jelas.

Bahkan tangannya hampir tidak pernah lepas dari pen matanya tidak pernah lalai dari melihat buku dan hatinya tidak pernah berhenti memahami kecuali apabila ia harus melakukan suatu perkara yang berhubungan dengan keperluan hidupnya seperti mencari keperluan makanan dan pakaian.

Selain itu yang menjadi kebiasaannya dalam seluruh hari dari setiap tahun adalah bahawa ilmu melepaskan topeng ketidakjelasan dari wajahnya dan membuka selubung yang tertutup rapat dari kedua tangannya.

Seorang ahli fiqh, Abu Hassan Ali bin Isa berkata:

“Saya pernah menemui Abu Raihan Al-Biruni ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut dengan nafasnya tersekat di kerongkong dan dadanya sudah terasa sesak. Dalam keadaan seperti itu dia masih sempat bertanya kepada saya:

“Bagaimana pendapatmu tentang bahagian seorang datuk yang fasid (yang suka berbuat maksiat) dalam hal warisan jika datuk itu dari garis ibu?”

Aku pun berkata dengan nada lemah lembut:

“Apakah dalam keadaan seperti ini, engkau masih sempat bertanya kepada mengenai perkara itu?”

Dia menjawab:

“Begitulah, aku ingin meninggalkan dunia, dan aku harus mengetahui masalah itu. Bukankah itu adalah lebih baik daripada aku membiarkannya dan aku tidak mengetahuinya sama sekali?”

Maka aku pun memberikan pendapatku tentang masalah tersebut dan dia terus menghafalnya dan mengajar kepadaku sesuatu yang telah beliau janjikan. Setelah itu saya pun keluar dan tiba-tiba saja terdengar suara tangis dari arah rumahnya. Demikian besar cintanya terhadap ilmu hingga ia mampu memusnahkan tumpuan ketakutan sakaratul maut.

Pada saat Umar Al-Faruq dalam keadaan sakaratul maut dan darah mengalir deras dari lukanya, dia masih sempat bertanya kepada seorang sahabat apakah dirinya sudah menyempurnakan solatnya atau belum.

Dalam perang Uhud, Sa’ad bin Rabi’ terluka dan tubuhnya berlumuran darah. Namun pada saat menjelang kematiannya dia masih sempat menanyakan keadaan Rasulullah s.a.w. Ini merupakan gambaran jiwa yang tabah dan hati yang teguh.

Pengajaran:
1. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan apabila kita perlu menghadapinya, sebaliknya apa yang lebih utama adalah apakah amalan yang akan dibawa bersama kematian itu.
2. Kematian adalah suatu permulaan. Permulaan perjalanan hidup yang kekal selamanya. Apa yang utama adalah bekal hidup kemudian nanti.

 

elakbersedih.blogspot.com/2010/07/019-jangan-bersedih-menghadapi-detik.html

 

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: