//
you're reading...
Uncategorized

Rasa Malu, Perhiasan Muslimah!

Suatu malam seorang ikhwan berjalan kaki melintasi trotoar pertokoan, sang ikhwan berusaha sebaik mungkin untuk konsentrasi pada jalan agar mata tetap “aman” dan terlindungi dari pandangan pada hal-hal yang haram, serta juga agar tidak nabrak rambu-rambu jalan atau tiang telepon yang terkadang “terasa diletakkan seenaknya”, berjalan dengan menundukkan mata dan sesekali melihat jalan, terkadang kalau tertabrak tiang telepon, paling dalam hati mengguman, “siapa sih yang naruh tiang disitu!”

Ya, kadang suatu perjalanan singkat berjalan kaki menjadi sebuah medan perjuangan yang berat, walau tidak sedang berperang dan angkat senjata, mata dan hati selalu waspada dari serangan mendadak “pandangan haram” yang diumbar dimana-mana, resikonya lebih berat daripada tertembak peluru! Setelah separuh perjalanan dan melewati beberapa toko pakaian, terdengar suara, “Assalamu’alaikum!”, secara refleks ikhwan tadi menjawab, “Walaikumussalam!” namun setelah menoleh ke asal suara si ikhwan ganti beristighfar, ternyata gadis-gadis muda dengan pakaian kurang pantas sedang tertawa cekikikan melihat si ikhwan jadi serba salah!

Apa dunia sudah terbalik? Dahulu setahu penulis saat duduk di bangku sekolah menengah atas, biasanya anak-anak laki-laki (afwan bukan termasuk penulis) ketika pulang sekolah nongkrong dulu di pinggir jalan untuk menggoda anak-anak perempuan, seperti biasa para anak perempuan jinak-jinak merpati ketika di- “suit-suit”, entah antara suka atau “benar-benar suka” diganggu seperti itu, dengan tersipu malu dan senyum mengembang mereka malah mencuri-curi pandang.

Namun yang terjadi beberapa tahun kemudian telah banyak perubahan, apakah karena model pakaian ikhwan yang tidak lazim dipakai orang-orang kebanyakan (bergamis dan bersarung), sehingga membuat ikhwan yang bersangkutan diperlakukan seperti itu, atau memang para gadis-gadis muda sekarang sudah hilang rasa malunya sehingga mereka “take over” kebiasaan yang dilakukan anak-anak muda laki-laki yang jauh dari ilmu agama.

KEMANA PERGINYA RASA MALU?

Dari Atha’ bin Abi Rabbah ia berkata, “Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada kami, “Maukah engkau aku beritahukan tentang profil (sifat) wanita penghuni surga?” Kami menjawab, “Tentu saja kami mau.” Lalu ia berkata, “Wanita berkulit hitam yang pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menuturkan, ‘Aku mengidap penyakit ayan, apabila penyakit itu kambuh, maka auratku akan tersingkap. Berdo’alah untukku kepada Allah!’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau mau, bersabarlah! Niscaya engkau akan mendapat surga. Namun kalau engkau mau, aku akan memohonkan agar Allah menyembuhkanmu.’ Wanita itu berkata, ‘Aku akan berusaha sabar.’ Wanita itu melanjutkan ucapannya, ‘Namun berdo’alah agar tubuhku tidak tersingkap.’ Lalu beliau pun mendo’akannya. [HR. Al-Bukhari (5652) dalam Al-Mardho bab Fadhlu Man Yushro mina ‘r-Rih]

Inti dari hadits di atas adalah bahwa wanita berkulit hitam tadi berkehendak kuat agar auratnya tidak tersingkap saat dia dalam kondisi tidak sadar, sehingga hal tersebut akan membuatnya malu. Ketika diberikan pilihan antara kesembuhannya dan agar bersabar dengan janji jannah, maka wanita beriman ini memilih untuk bersabar, namun tetap meminta do’a dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar auratnya tidak terlihat manusia.

Duhai kemanakah perginya rasa malu itu sekarang ini, nilai dari keindahan wanita itu terletak pada sifat malunya, semakin tinggi rasa malu itu maka semakin indah wanita tersebut, dan semakin sedikit rasa malunya maka semakin murah nilai wanita itu, bahkan menjadi “murahan”. Para wanita-wanita shalih terdahulu berusaha untuk tetap menuntut ilmu dan tetap meninggikan rasa malunya, namun justru yang kita temui sekarang adalah para wanita muslim semakin jauh dari ilmu agama dan melepas pakaian malunya.

Jika wanita-wanita model seperti ini nanti menikah dan melahirkan anak-anak mereka, lalu akan menjadi apakah generasi muslim kelak? Seseorang yang memiliki sifat malu maka dia akan sauh dari keburukan dan dosa, semakin besar rasa malunya maka akan membuat seseorang semakin aman dari jebakan-jebakan syaithan, mereka tidak akan memamerkan auratnya di depan umum, tidak menggoda laki-laki, tidak akan berzina, tidak akan melihat hal-hal yang haram, dan begitu seterusnya. Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :’Sikap malu tidak akan datang kecuali karena kebaikan.’ [HR Al-Bukhari (X/6117), Muslim (37)]

Jika seluruh rasa malu adalah kebaikan maka orang yang tidak memiliki rasa malu adalah orang yang tidak memiliki kebaikan dalam dirinnya, mereka yang tidak memiliki rasa malu akan berbuat sekendak hatinya dan akan mudah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka akan dengan mudah berbuat zhalim kepada hak-hak manusia dan akan merusak masyarakat muslim secara keseluruhan. Ketika rasa malu sudah hilang dari diri seseorang maka tidak akan tersisa dari seseorang kecuali kerusakan yang akan menjangkiti orang-orang di sekitarnya. Mereka ini akan berbuat sekehendak hatinya tanpa memiliki batasan dan aturan lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya di antara perkara yang telah dipahami oleh manusia dari perkataan kenabian pertama adalah ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah apa yang kamu suka’.” [HR. Al-Bukhari (7/3483/3484)]

Dalam hadits yang diriwayatkan Anas Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Tidaklah ada suatu kekejian pada sesuatu perbuatan kecuali akan menjadikannya tercela, dan tidaklah ada suatu rasa malu pada sesuatu perbuatan kecuali akan menghiasinya.” [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Sifat wanita identik dengan keindahan dan kelembutan, jika wanita tidak menghiasi dirinya dengan sifat malu maka kehormatan wanita telah dicampakkan oleh pemiliknya, tiada lagi yang tersisa pada diri wanita jika rasa malu yang sudah menjadi tabiat dari diri wanita telah dibuang. Anak-anak gadis banyak yang berlalu lalang di jalanan, juga banyak yang suka nongkrong di pinggir jalan hanya agar tidak dibilang kuper (kurang pergaulan) atau ketinggalan zaman.

Maka hendaklah para orang tua untuk mengontrol pergaulan anak gadisnya masing-masing dan selalu mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak gadisnya, pergaulan bebas juga berawal dari kurang perhatiannya orang tua akan teman-teman anak-anaknya, padahal orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas amanah yang telah diberikan kepada mereka, selayaknyalah agar para orang tua memperhatikan akhlak dan budi pengerti anak gadisnya.

Orang tua yang membelikan anak gadisnya pakaian ketat dan suka mengumbar aurat sama saja mereka mendorong anak gadis mereka masuk neraka dengan kedua tangan mereka sendiri, bagaimana tidak? Para orang tua yang sudah bersusah payah bekerja untuk mendapatkan uang kemudian dengan uang itu mereka membelikan anak gadis mereka sebuah pakaian calon penghuni neraka, yaitu mereka yang berpakaian laksana telanjang!

Selain sufur (terbukanya aurat) tanpa rasa malu, kadang dibarengi juga dengan ikhtilat (campur baur) nya antara laki-laki dan perempuan yang suka nongkrong, entah itu di pinggir jalan, cafe-cafe, mall, dan tempat-tempat “ngumpul” lain yang kadang diselingi dengan musik dan minuman keras, para penyeru kegiatan ini selalu mengaburkan perkara yang penting ini menjadi hal yang sepele, sering ketika ada teguran mereka hanya mengomentarinya dengan perkataan, “masa yang begitu saja dilarang… cape deh!”

SIKAP MALU TANDA KEIMANAN

Sikap malu adalah sebuah bagian tak terpisahkan dari keimanan seseorang, iman dan malu akan selalu berjalan beriringan, semakin besar rasa malu seseorang maka akan semakin bertambah pula keimanannya, dan derajat tertinggi dari rasa malu adalah malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dengan membawa rasa malu itu ia akan selalu merasa di awasi Allah Ta’ala dan akan selalu memperhitungkan segala hal perbuatan yang ia lakukan, sebaliknya jika rasa malu itu semakin berkurang maka akan semakin kurang juga keimanannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Keimanan ada tujuh puluh tujuh atau enam puluh tujuh cabang, keimanan yang paling utama adalah mengucapkan “Laa Ilaaha Illallaah”, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Sedangkan sikap malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” [Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (I/9) dengan lafadz “67 cabang”. Imam Muslim (I/35) dengan lafadz “77 cabang”.]

Dalam hadits shahih di atas disebutkan sifat malu adalah salah satu cabang keimanan tanpa disebutkan cabang yang lainnya, hal ini menunjukkan akan pentingnya sifat malu, selain itu dengan adanya sifat malu akan semakin mendorong pemiliknya untuk mencapai cabang keimanan yang lainnya, sedang dengan hilangnya rasa malu maka akan rusak cabang-cabang keimanan yang lainnya.

Sifat malu adalah sifat yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih besar rasa malunya daripada perawan yang berada dalam pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang dia benci, kami bisa mengetahuinya dari rona wajahnya.” [HR Al-Bukhari (VI/3562-10/6102), Muslim (2330)]

Perhatikanlah wahai saudariku, bukankah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu, bahkan beliau lebih pemalu dari gadis yang dipingit? namun apa yang kita dapati pada anak-anak gadis zaman sekarang ini, mereka malah menyerang seorang ikhwan (kalau tidak bisa dibilang melecehkan) dengan godaan-godaan yang merayu, tawa genit dan kerlingan mata.. seharusnya ada dibentuk KOMNAS IKHWAN, untuk melindungi ikhwan dari pelecehan-pelecehan model seperti ini.

Rasa malu yang dimaksud adalah rasa malu yang diupayakan dengan pemahaman yang baik akan ilmu yang sesuai syar’i, Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”

SIKAP MALU YANG TERCELA

Namun disamping itu semua ada juga sifat malu yang tercela, yang membuat pemiliknya semakin jauh dari kebaikan, yaitu sifat malu yang menjadikan pemiliknya sering mengabaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka pemilik sifat malu ini malah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan kejahilan dan bid’ah, mereka malu untuk mendatangi majelis-majelis ta’lim yang syar’i, malu mengenakan pakaian taqwa yang justru mereka anggap nyeleneh atau malu kalau mengenakan gamis yang tebal dan cadar dibilang “istrinya teroris”, lebih dari itu mereka malu untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lebih cenderung untuk liberal!

Padahal telah ada contoh yang mulia dari shahabiah yang mulia Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata.’Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam seraya berkata. ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab.’Jika dia melihat air (mani)’. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata.’Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi?’ Beliau menjawab.’Ya, bisa’. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya”. [Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169]

Maka pahamilah konsep malu yang syar’i sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga perbaikan tatanan masyarakat yang Islami akan terwujud, tidka cukup hanya slogan-slogan belaka, bukankah sudah terlalu banyak kerusakan yang muncul dari sebab hilangnya rasa malu ini wahai saudariku? Bertaqwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pakailah pakaian malu pada dirimu, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu.

Oleh Andi Abu Najwa

About cahayarasul

ingin beriman dan taqwa

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: